Muridan Corner

Papua is a place where symbolic and structural violence remains cyclical. Expropriation of indigenous land, bulk of migrants, displacement, rights violation, and corruption of bureacrats are daily sad stories from the land. The people live in a growing culture of terror. Politically curious foreigners are banned. Frontier between rumour and fact is often blurred. Nevertheless some of their leaders has drummed up a struggle for a Papua as a land of peace and justice. Let us lend a hand…

Dr. Muridan Satrio Widjojo, LIPI

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Nama lengkapnya Muridan Satryo Widjojo. Mungkin karena namanya “Satryo”, itu yang kemudian menjadikan garis hidupnya, jalan darmanya sebagai seorang ksatria. Muridan meninggal pada usia yang tergolong muda, 47 tahun, persis 7 tahun yang lalu. Namun, dalam usianya yang relatif muda itu Muridan telah memberikan sumbangan penting bagi upaya penyelesaian konflik Papua secara damai. Mungkin kata “penyelesaian konflik” dianggap tidak tepat bagi Jakarta yang menganggap bahwa tidak ada masalah konflik yang serius di Papua. Atau persoalan Papua dianggap tidak ada bedanya seperti ditemukan di tempat lain, persoalan ketidakpuasan biasa saja, persoalan ekonomi belaka.

Presiden Jokowi pun punya resep yang sama untuk Papua seperti resepnya untuk daerah lain: pembangunan infrastruktur. Harga semen yang bisa mencapai 600 ribu satu saknya di Wamena dengan perbaikan infrastruktur transportasi akan sama harganya dengan di Surabaya yang cuma 60 ribu.

Selain pendekatan ekonomi seperti ini Jokowi juga menggunakan pendekatan keamanan yang pernah dicoba diputus oleh Gus Dur saat menjadi presiden dan menggantinya dengan pendekatatan dialog. Di tengah sulitnya mengembalikan upaya dialog damai itulah kita melihat sosok dan peran Muridan Widjojo yang telah ditulis dalam sebuah buku untuk menghormatinya. Buku yang berisi tulisan 23 orang sahabatnya itu akan diluncurkan tepat pada hari kelahirannya Minggu 4 April nanti.

Seperti sahabatnya yang lain, saya juga memiki kenangan dengan Muridan. Saya pertama kali bertemu Muridan tahun 1993 di Lembah Baliem, saat itu dia masih magang sebagai calon peneliti LIPI. Ketika ketemu itu, badannya kurus, katanya baru terkena Malaria, sebuah penyakit yang sering menyerang teman-teman yang melakukan penelitian di Papua. Saya tidak heran jika Muridan terkena Malaria, dia bercerita sering tidur bersama penduduk di honei-honei. Honei adalah rumah penduduk yang berbentuk bulat tertutup beratap ilalang dan hanya ada satu pintu, sehingga menyimpan hangat dari unggun api di udara lembah Baliem yang dingin. Sebetulnya pada awalnya saya merasa agak aneh, anak lulusan Sastra Perancis UI ini memilih kegiatan lapangan seperti ini. Baru kemudian setelah menjadi peneliti LIPI dia mengambil jurusan antropologi dan melanjutkan penelitiannya di Papua.

Pada tahun 2002 dia mendapatkan beasiswa untuk belajar sejarah di Leiden University, pertama untuk master kemudian untuk doktornya. Pada tahun 2000 saat penelitian untuk S2 antropologi, Muridan sudah terlibat menjadi saksi ahli pengadilan tokoh Papua yang dianggap melawan pemerintah.  Keempat tokoh yang terlibat dalam Presidium Dewan Papua itu adalah Theys Hiyo Eluay, Thaha Muhamad Alhamid, Herman Awom, Don Flasy dan Jhon Mambor. Kisah ini dapat dibaca dalam tulisan Herdin Halidin dalam buku yang akan terbit. Herdin saat itu menjadi asisten peneliti Muridan.  Saat itu, Suharto sudah lengser dan diganti BJ Habibie yang memang membuka ruang kebebasan untuk menyuarakan pendapat. BJ Habibie juga mengijinkan referendum bagi Timor Timur yang kemudian lepas merdeka menjadi Timor Leste. Setelah Timor Leste, Aceh dan Papua adalah dua wilayah yang juga ingin melepaskan diri dari Indonesia. Jika persoalan Aceh kemudian teratasi melalui perjanjian damai yang ditandatangani di Helsinki; persoalan Papua masih belum terselesaikan hingga hari ini.

Ketika Gus Dur terpilih sebagai presiden menggantikan BJ Habibie, penyelesaian persoalan Aceh dan Papua menjadi salah satu agendanya yang utama. Ahmad Suaedy seorang peneliti yang dekat dengan Gus Dur mendokumentasikan dengan rinci bagaimana usaha Gus Dur melalui dialog mengupayakan jalan damai untuk menyelesaikan konflik Aceh dan Papua. Dokumentasi dan penelitian Ahmad Suaedy dapat dibaca di buku yang semula merupakan disertasi doktornya yang berjudul Gus Dur Islam Nusantara & Kewarganegaraan Bineka: Penyelesaian Konflik Aceh dan Papua 1999-2001.

Salah satu upaya Gus Dur adalah dengan mengganti nama Irian menjadi Papua dan membolehkan dikibarkannya bendera Bintang Kejora asal lebih rendah dari bendera Merah Putih. Gus Dur menjalin hubungan dengan Theys Hiyo Elue yang kemudian menjadi Ketua Dewan Adat Papua untuk mencari solusi damai melalui dialog-dialog yang mengandaikan kesetaraan antara kedua belah pihak.

Pada tanggal 10 November 2001 Theys ditemukan tewas terbunuh. Penyelidikan menunjukkan bahwa sebuah Tim Kopassus terbukti sebagai pihak yang melakukan pembunuhan itu. Apakah akibat terbunuhnya Theys yang kurang lebih bisa disamakan posisinya dengan Hasan Tiro di Aceh membuat kelanjutan jalan damai di Papua menjadi berantakan? Pastilah persoalannya tidak sesederhana itu. Dilengserkannnya Gus Dur dan naiknya Megawati tampaknya sejak itu telah mengubah total pendekatan dialog yang telah dirintis Gus Dur kembali ke pendekatan lama, keamanan. Jika kemudian konflik Aceh bisa diselesaikan melalui Helsinki Agreement tgl 15 Agustus 2005; konflik Papua terus berlanjut.

Muridan Widjojo setelah menyelesaikan S3 nya (2007) tentang perlawanan Pangeran Nuku di Tidore terhadap Belanda dan menunjukkan aliansi kultural antara Papua dan Maluku di dalamnya, seperti memperoleh momentum untuk kembali meneliti Papua sambil membangun jaringan mencari solusi damai untuk konflik Papua. Bersama timnya Muridan menghasilkan konsep Papua Road Map pada tahun 2010 yang menjadi panduan advokasi solusi damai untuk menyelesaikan konflik Papua. Sebagai seorang peneliti lapangan yang tangguh Muridan melakukan perjalanan ekstensif untuk melihat sendiri dan memahami apa yang terjadi di tingkat akar rumput di Papua. Di sisi lain dia juga berhasil diterima oleh berbagai kalangan masyarakat sipil Papua, terutama tokoh-tokoh gereja. Dengan daya analisisnya dan kemampuannya membangun jaringan; bersama Pater Neles Tebay menjadi dua figur sentral sebuah upaya dialog damai yang telah terputus sepeninggal Gus Dur.

Namun sejarah rupanya belum berpihak pada Papua. Pada tanggal 7 Maret 2014 Muridan wafat karena kanker fasofaring dan 5 tahun kemudian Pater Neles Tebay juga wafat karena kangker tulang. Sepeninggal Muridan dan kemudian Pater Neles Tebay jaringan dialog Papua damai mengalami kendala keberlanjutan yang cukup serius. Dalam tulisannya yang berjudul  “Dialog Jakarta-Papua: Apa Masih Relevan?” Budi Hernawan yang mengenal dari dekat Muridan dan Pater Neles Tebay, mengatakan bahwa jaringan dialog Papua damai menjadi kehilangan keterkaitannya dengan apa yang terjadi di akar rumput. Gerakan dialog Papua damai terputus dari gerakan rakyat.

Dalam buku yang akan terbit untuk menghormati Muridan kontribusi para sahabatnya menjadi testimoni sosok dan peran Muridan Widjojo dalam pergumulannya dengan Papua. Profesor Leonard Blusse promotor disertasi doktornya di Universitas Leiden dalam tulisannya yang berjudul “Remembering Muridan Widjojo” antara lain menulis sebagai berikut: What caught my special interest in Muridan was his great devotion to the welfare of the Papua’s and the anthropology and history of West Irian. I will leave it to others to write about his important contribution to the emancipation of the Papuas within contemporary Indonesia. May his devotion to the Papua cause never be forgotten! 

Sementara itu, Elvira Rumkambu, seorang aktifis dan dosen di Uncen Jayapura, meskipun hanya sempat bertemu satu jam dengan Muridan mempunyai kesan yang sangat mendalam tentang almarhum. Dalam tribute yang ditulisnya untuk menghormati Muridan yang berjudul “Opresi dan Emansipasi Papua: Sebuah Refleksi Bersama Muridan”, Elvira mengatakan: Karena itu yang dibutuhkan Papua bukanlah diselamatkan oleh orang Indonesia tapi bagaimana kita memilih jalan-jalan keberpihakan bersama Papua yang tersisih. Seperti pernyataan Muridan bahwa “masalah Papua merupakan beban politik masyarakat Indonesia” sehingga sudah sepantasnya kita memikulnya bersama-sama tanpa prasangka negatif namun dengan keikhlasan untuk kemanusiaan.

Elvira adalah bagian dari generasi muda Papua yang semakin aktif terlibat dalam gerakan masyarakat sipil. Anak-anak muda ini sebagian besar pernah belajar di berbagai universitas di luar Papua, terbanyak di Jawa. Ketika isu rasialisme memanas dan memuncak dalam gerakan protes Papua Live Matters terlihat jelas tingginya kesadaran politik anak muda Papua. Tujuh tahun setelah meninggalnya Muridan Papua telah mengalami inter-generational change yang penting. Generasi muda Papua yang sebagian besar dididik di universitas-universitas Indonesia ini memiliki aspirasi dan sikap politiknya sendiri dan siapapun yang tidak memperhitungkan dinamika demografi-politik ini niscaya akan gagal memahami Papua.

Buku untuk mengenang dan menghormati Muridan yang berjudul “Emansipasi Papua” ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mereka yang masih percaya bahwa jalan damai adalah jalan satu-satunya untuk menyelesaikan konflik Papua. Saat ini, ketiadaan tokoh sentral yang dapat merepresentasi Papua menjadikan gerakan resistensi terhadap represi keamanan di Papua menjadi fragmentaris dan sporadik. Keadaan seperti ini  melegitimasi aparat keamanan untuk memberi label kelompok resisten ini sekedar sebagai KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata). Labelisasi dan stigmatisasi seperti ini sangat berbahaya karena telah mereduksi realitas yang sebenarnya. Kegagalan membaca realitas hampir pasti mengakibatkan kegagalan menyelesaikan masalah. Rentetan peristiwa kekerasan yang terus terjadi berawal dari kesalahan memahami realitas ini.

Buku untuk mengenang dan menghormati Muridan yang berjudul “Emansipasi Papua” ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mereka yang masih percaya bahwa jalan damai adalah jalan satu-satunya untuk menyelesaikan konflik Papua. Saat ini, ketiadaan tokoh sentral yang dapat merepresentasi Papua menjadikan gerakan resistensi terhadap represi keamanan di Papua menjadi fragmentaris dan sporadik. Keadaan seperti ini  melegitimasi aparat keamanan untuk memberi label kelompok resisten ini sekedar sebagai KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata). Labelisasi dan stigmatisasi seperti ini sangat berbahaya karena telah mereduksi realitas yang sebenarnya. Kegagalan membaca realitas hampir pasti mengakibatkan kegagalan menyelesaikan masalah. Rentetan peristiwa kekerasan yang terus terjadi berawal dari kesalahan memahami realitas ini.

Di lihat dari sisi yang lain, fragmentasi yang terlihat pada sikap tokoh-tokoh Papua juga memudahkan Jakarta untuk menjalankan strategi pemecahan wilayah Papua menjadi beberapa propinsi. Belajar dari pengalaman Aceh, strategi seperti ini terbukti gagal untuk memecah Aceh menjadi beberapa propinsi karena sikap para tokohnya yang cukup solid dalam menghadapi Jakarta. Melihat perkembangan yang terjadi di Papua saat ini, sulit dipungkiri jalan damai melalui dialog setara yang dirintis antara lain oleh Muridan Widjojo menjadi sulit terlaksana. Tapi di sinilah paradox-nya, seperti Aceh, Papua adalah batu ujian bagi Indonesia untuk menjadi bangsa yang bermartabat. Melihat gejalanya, Indonesia bisa gagal melewati batu ujian itu.

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik akademia portal kajanglako.com

Sumber artikel: https://kajanglako.com/id-12291-post-muridan-widjojo.html

Penulis : Riwanto Tirtosudarmo, dkk

Editor : Riwanto Tirtosudarmo dan Cahyo Pamungkas

Jumlah Halaman : i-xx + 371 hlm, 15 x 23 cm

Tahun : 2021

ISBN : 978-623-96661-0-1

Penerbit : IMPARSIAL, the Indonesian Human Rights Monitor

ABSTRAK

Muridan S. Widjojo dilahirkan di Surabaya, 4 April 1967; meninggal dalam usia yang relatif muda, 47 tahun pada 7 Maret 2014, tujuh tahun yang lalu, karena kanker fasofaring yang dideritanya. Dalam tulisan yang saya buat sesaat setelah mendengar Muridan meninggal, saya mengatakan bahwa kecintaannya dengan Papua dan pergumulannya untuk membebaskan penderitaan rakyat Papua itulah yang membuatnya hidup meskipun kanker sedang menggerogoti raganya. Jiwa dan spiritnya bertempur untuk menyelamatkan raganya, meskipun akhirnya tetap tak terselamatkan. Kita tahu jiwa dan spritnya masih bertahan, hidup di benak kita, para sahabatnya, rekan-rekannya di Papua dan orang-orang biasa di Papua yang pernah ditemui dalam berbagai kunjungannya ke Papua. Bagi Muridan Papua bukan sekedar obyek peneltiannya, untuk menulis artikel di jurnal ilmiah dan mendapatkan kredit poin kenaikan pangkatnya sebagai peneliti di LIPI. Papua juga bukan batu loncatannya untuk mencari popularitas agar dianggap sebagai intelektual publik yang berjuang demi Papua. Papua bagi Muridan seperti segala-galanya, bahkan mungkin lebih dari anak dan istrinya yang ia sangat cintai. Kecintaan Muridan kepada Papua, orang-orangnya, melampaui batas-batas percintaan yang bersifat personal, jelas jauh melebihi cinta terhadap sendiri, jika perlu dirinya dikorbankan demi Papua, oleh karena itu ada yang terasa transedental di sana. Sebagai teman yang pertama kali bertemu dengan Muridan di Bandara Wamena di Lembah Baliem, tahun 1993, ketika ia menjemput kami dengan Toyota tua, milik proyek LIPI, dengan tubuhnya yang tampak kurus karena baru sembuh dari malaria yang menyergap tubuhnya; saya sudah melihat ada enigma disana. Enigma itu yang kemudian tumbuh dan membesar dalam jiwanya, dalam spirit pengorbanan yang luar biasa untuk meleburkan dalam percintaan yang hampir-hampir total dengan Papua.

e-Book terkait : Emansipasi Papua – Muridan S. Widjojo (1967-2014)

CURRICULUM VITAE

DR. MURIDAN SATRIO WIDJOJO

Surabaya, 4 April 1967

Pendidikan

2007  Strata 3 (Doktor) Bidang Sejarah, Faculteit der Letteren, Universiteit Leiden

2002 Strata 2 Advanced Master Program (M.Phil.), Bidang Sejarah, Faculteit der Letteren, Universiteit Leiden2001 Strata 2 (Magister) Bidang Antropologi, FISIP, Universitas Indonesia

1992 Strata 1 (Sarjana), Sejarah dan Kebudayaan Perancis, Program Studi Perancis, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia                                                   

Buku

2010    (Editor and co-writer) Papua Road Map, Negotiating the Past, Improving the Presence, and Securing the Future, Jakarta/Singapore, YOI, KITLV, ISEAS

2009    (Writer) The Revolt of Prince Nuku: Cross-cultural Alliance-making in Maluku, c. 1780-1810, Leiden: Brill

2003    Bahasa negara versus bahasa gerakan mahasiswa: kajian semiotik atas teks-teks pidato Presiden Soeharto dan selebaran gerakan mahasiswa, Jakarta: Dian Dharma

2003    “Strukturalisme Konstruktivis: Pierre Bourdieu dan Kajian Sosial Budaya, dalam Perancis dan Kita, Widya Sarana, FIB UI

1999    (Editor and co-writer), Penakluk Rezim Orde Baru : Gerakan Mahasiswa 1998, Sinar Harapan, Jakarta 

Artikel di Jurnal Ilmiah

2014: “Melanesia in review: Issues and events, 2013: Papua” dalam The Contemporary Pacific26(2), 506-516.

2013:  “Melanesia in Review: Issues and Events, 2013 (Bersama Fraenkel, J., Chappell, D., Widjojo, M. S., Nanau, G. L., & Van Trease, H). The Contemporary Pacific, 476-552.

2013: “Melanesia in Review: Issues and Events, 2012. (Bersama Fraenkel, J., Chappell, D., Widjojo, M. S., & Kantha, S), dalam The Contemporary Pacific, 370-415.

2012: “Perempuan Papua dan Peluang Politik di Era Otsus Papua.”  Masyarakat Indonesia, Vol. 38, No. 2, Desember 2012. |

2012: “UU Otonomi Khusus bagi Papua: masalah legitimasi dan kemauan politik” (Widjojo, M. S., & Budiatri, A. P.), dalam Jurnal Penelitian Politik9(1), 22.

2010    “Papua Political Review” dalam The Contemporary Pacific: a Journal of Island Affairs, Vol 22 No 2, Hawai’i, University of Hawai’i Press, p. 440-8.

2009    “Negotiating the Past and Looking to the Future,” dalam Inside Indonesia 98: Oct-Dec 2009, http://www.insideindonesia.org/edition-98/negotiating-the-past-and-looking-to-the-future

2008    “Papua Road Map: Conflict resolution should move from a security to a justice approach,” dalam Inside Indonesia 94: Oct-Dec 2008, http://www.insideindonesia.org/edition-94/papua-road-map

2006    “Nationalist and Separatist Discourses in Cyclical Violence in Papua, Indonesia,” dalam Asian Journal of Social Science, Vol 34 No 3

2005    “Separatisme – Hak Asasi Manusia – Separatisme: Siklus Kekerasan di Papua” Jurnal Dignitas, Volume III No 1, ELSAM Jakarta

1997:” Pemberdayaan masyarakat “lain-lain” di Timika Irian Jaya.” Analisis CSIS, 26 (3).

Buku Monograf

2008, salah satu penulis, Nasionalisme dan Agama, Jakarta: LIPI

2007, salah satu penulis, Nasionalisme dan Primordialisme, Jakarta: LIPI

2006, salah satu penulis, Trust Building dan Rekonsiliasi di Papua, Jakarta: LIPI

2005, salah satu penulis, Agenda dan Potensi Damai di Papua, Jakarta: LIPI

2004, salah satu penulis, Aktor dan Peta Konflik di Papua, Jakarta: LIPI

Makalah Seminar Internasional

2010    “Initiating Peace Talks: Ending Political Stalemate in Papua,” in Indonesia: what role as a global actor? Wilton Park Conference, West Sussex, England, 1-4 March.

2010    “Papua Road Map: alternatives for peace in Papua,” in Oxford Transitional Justice Research conference, Oxford, 6 February.

2009    “Papua Road Map: alternatives for peace in Papua,” in Papua Pride, Utrecht, Netherlands, 28 November.

2006    “Non-State Actors and the Cycle of Violence in Papua,” Oxford, Refugees Studies Centre, University of Oxford, 18 October

2005    “Bridging the Gap or Pushing Papua out of the Republic?” Symposium Historical Myths and Conflict Resolution, Papua Lobby, Amersfoort, 18 November

2004    « Separatism-Human Rights-Separatism » Euroseas Conference, Paris, 1-4 September.

2004    « Roots of Conflicts in West Papua » Peace Brigade International (PBI) Workshop, Luxembourg, May 2004

2003    « Papuan Raiding Enterprises in the Moluccan Waters of the 18th Century », The 3rd Annual TANAP Workshop, Xiamen, October

2002    « Charisma, Spices, and Guns: The Strategies of Prince Nuku against the VOC in the End of Eighteenth Century », The 2nd Annual TANAP Workshop, Bangkok, October  

2001    « Local Practices of Conflict Resolution in Timika, Papua », in Southeast Asian Conflict Studies Network, The 2nd Regional Workshop on Culture and Conflict Resolution, Davao City, Philippines, November 2001.

2001    « The Strategies of Indonesian Student Movement », in Workshop on Southeast Asian Studies, Democracy Projects, Denpasar, Bali, 9-14 January 2001

Blog Pribadi : http://muridan-papua.blogspot.com/