Data-data Penelitian


TITTLE
SOURCE
CREATOR
PUBLISHER
DATE
TYPE
DESCRIPTION
SUBJECT
Five New Species Of Sicyopterus (Teleostei: Gobioidei: Sicydiinae) From Papua New Guinea & Papuahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/ASNRJYHadiaty Renny Kurnia Keith Philippe Allen Gerald Cord ClaraArtikel Jurnal Dataverse2018-07-03T17:39:27ZdigitalFive new species of Sicyopterus freshwater gobies are described from streams of Papua new Guinea and Papua Province indonesia. they differ from other species belonging to the genus by a combination of characters including the upper lip morphology the number of soft rays in the second dorsal fin the scales in the lateral predorsal transverse back transverse forward and zigzag series sexual dimorphism and live colours. Cybium Vol. 35 No. 4. December 2011. P: 299-318Medicine Health and Life Sciences
Bamboos (Poaceae: Bambusoideae) of Papua Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/L430BPDamayanto I Putu Gede P. Mambrasar Yasper M. Hutabarat PrimaArtikel Jurnal Dataverse2021-03-06T05:18:54ZdigitalTujuan penelitian ini adalah untuk mendata jenis-jenis bambu yang ada di Papua Indonesia berikut distribusinya. Catatan penting terkait bambu ini juga diberikan. Terdapat 26 jenis dari 12 marga bambu yang dikenali di Papua antara lain Bambusa Buergersiochloa Dendrocalamus Fimbribambusa Gigantochloa Nastus Neololeba Parabambusa Phyllostachys Pinga Racemobambos dan Schizostachyum. Bambu tersebut tumbuh tersebar di daerah Provinsi Papua dan Papua Barat. Bambu tegak dengan diameter besar jarang dijumpai di Papua. Bambu yang mendominasi adalah bambu yang menyebar (scrambling) seperti Nastus dan Racemobambos. Jenis endemik yang tumbuh liar di Papua adalah jenis Bambusa Nastus Neololeba Parabambusa Pinga dan Racemobambos.Medicine Health and Life Sciences
Analisis Kendala Pengelolaan Danau Sentani Berwawasan Lingkunganhttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/2HDNFMWalukow Auldry FArtikel Jurnal Dataverse2018-11-22T14:36:16ZdigitalDanau Sentani berada di Provinsi Papua sebagian wilayahnya terletak di Kabupaten Jayapura dan lainnya berada Kota Jayapura. Danau ini memiliki luas sekitar 9630 ha dengan kedalaman 52 m dan terletak pada ketinggian 72 m di atas permukaan laut. Beberapa permasalahan pada Danau Sentani adalah erosi limbah domestik limbah industri yang berdampak pada meningkatnya konsentrasi Cu dan Zn di atas standar baku mutu kualitas air. Metode analisis pada kajian ini menggunakan ISM (interpretative structural modeling). Menurut pendapat pakar elemen – elemen lembaga yang terlibat dalam pengelolaan Danau Sentani adalah Dinas Kelautan dan Perikanan Dinas Pemukiman Tokoh Adat/lembaga adat/OBM Bapedalda Dinas Tata Ruang Perguruan Tinggi dan Dinas Pariwisata. Kendala utama yang menjadi elemen kunci dalam pengembangan model pengelolaan Danau Sentani adalah kurangnya visi dan misi pengelolaan lingkungan perbedaan tujuan antar stakeholder perbedaan tujuan antar wilayah administrasi kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia kurangnya dukungan peraturan dan persaingan kebutuhan/ kepentingan. LIMNOTEK Vol 17 No 1. Hlm: 118-12Earth and Environmental Sciences
Komunitas Ikan Danau Sentani Papuahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/KQYM3MNasution Syahroma Husni Haryani Gadis SriProsiding Dataverse2018-09-13T16:08:43ZdigitalDanau Sentani terletak di bagian utara Provinsi Papua. Kawasan danau merupakan bagian dari kawasan lindung yang mencakup Kawasan Danau dan Cagar Alam Pegunungan Cyclops. Keanekaragaman ikan air tawar di Indonesia tertinggi kedua setelah Brazil. Di perairan ini diperkirakan jumlah jenis ikan telah mengalami penurunan. Penelitian ini dilakukan di Danau Sentani pada bulan April 2014 untuk mengungkapkan komunitas ikan dan mengetahui kondisi habitat perairan tempat hidupnya. Pengambilan sampel ikan dilakukan pada beberapa tipe habitat yang berbeda di lima stasiun yaitu wilayah Sentani Barat: St. 1 (Doyo lama) St2 (Dondai) Sentani timur: St3 (Jembatan dua) St4 (Outlet/Jaifuri) dan Sentani Tengah: St5 (Inlet/S.Deyau). Sampel ikan ditangkap menggunakan jaring insang eksperimen berukuran mata jaring ¾ 1 1½ 2 dan 3 inci selama 2-3 jam. Hasilnya dijumpai 11 jenis ikan yang terdiri dari delapan jenis ikan asli dan tiga jenis ikan introduksi. Sebagian besar jenis ikan yang ditemukan termasuk ikan konsumsi. Jumlah total ikan tertinggi dijumpai di St5 (Inlet/S.Deyau) yaitu sebanyak 1.209 ekor. Di danau ini keragaman spesies ikan relatif rendah keseragaman populasi ikan sedang dan adanya kecenderungan dominansi jenis ikan tertentu yaitu ikan hewu (Glossolepis incisus) yang termasuk jenis ikan hias. Secara umum kualitas air di setiap stasiun pengamatan masih memenuhi persyaratan untuk kegiatan perikanan. Di Danau Sentani telah masuk jenis ikan introduksi seperti red devil (Amphilophus labiatus) dengan jumlah banyak dan diperkirakan suatu saat akan mengancam keberadaan ikan asli di perairan ini. Oleh sebab itu diperlukan kehati-hatian dalam introduksi spesies baru ke dalam perairan Danau Sentani karena sudah terjadi pencemaran secara biologis. Prosiding Seminar Nasional Limnologi VII-2014. Hal. 123-137 ISBN 978-979-8163-20-3Earth and Environmental Sciences
A New species of Murraya from Cyclops Mountain Papuahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/718JEYAstuti Inggit Puji RugayahArtikel Jurnal Dataverse2021-03-06T02:14:40ZdigitalKoleksi hidup Kebun Raya Bogor yang ditanam di vak XXIV.A. 192-192a yang berasal dari Cagar Alam Kemiri Said Pegunungan Cyclops Papua koleksi Lugrayasa (LG 1352) dipertelakan sebagai jenis baru dengan nama Murraya cyclopensis Astuti & Rugayah. Jenis tersebut memiliki karakter morfologi yang mirip dengan M.paniculata (L.)Jack pada karakter vegetatif dab struktur bunganya tetapi berbeda pada adanya bulu pada ranting rakis tangkai daun ukuran bunga yang lebih kecil buahnya yang membulat dan berwarna merah serta biji yang membundar berbulu pendek dan lebat sertya beraril merah.Medicine Health and Life Sciences
The unique characters & habitat of Freycinetia (Pandanaceae) with seven new species in Timika West Papua Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/NTKNSXSinaga N. I. Keim A. P. Puradyatmika P. Artikel Jurnal Dataverse2018-06-25T22:04:56ZdigitalThe unique characters and habitat of Freycinetia (Pandanaceae) with seven new species in Timika West Papua Indonesia. Reinwardtia 13(5): 405–418. —This current study of Freycinetia was carried out in Timika West Papua. Results indicate that species vary in both morphological characters and habitat preferences. Timika is unique as only in this area species with highest number of segments in a berry and of stigmatic remains are found. Exceptional characters regarding to auricles areolas and stigmatic remains are observed in many species in this area. The result of this current study suggests that the ability of species to adapt to the widespread forest disturbances in Timika leads to their differences in morphological features compare to other Papuan species. Subsequently seven new species are described here. Reinwardtia 2013 vol.13 no. 5 pp. 441-445 Medicine Health and Life Sciences
Population dynamics of cuscus in tourist island of Ahe District of Nabire Papuahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/BPE6M3Sinery A. S. Boer C. Farida W. R.Artikel Jurnal Dataverse2018-06-25T20:08:45ZdigitalCuscus is a pouched herbivorous mammal of the family Phalangeridae which is arboreal and nocturnal.. The animals are protected by law because in addition to having a low reproduction and limited distribution area they face a very high level of hunting. Hunting in the wild by people is done not only in production forest areas but also in forest conservation areas such as recreational forest of Table Mountain Arfak Mountains Nature Reserve and other places. Directly or indirectly the hunting affects the quality of the ecosystem in these areas especially the cuscus population. Better management efforts are required in these areas to ensure the survival of many organisms in it especially the cuscus. This study aimed to determine the cuscus population in Ahe Island and the method applied was descriptive method using direct observation. The study was conducted in one month. The results demonstrate that cuscus in Ahe Island consisted of common spotted cuscus (Spilocuscus maculatus) and eastern cuscus (Phalanger orientalis). The number of individuals of S. Maculatus was24 consisting of 14 females and 10 males whereas P. orientalis consisted of 2 individuals and both were males. The number of adult cuscus individuals was 16 while adolescents and children were respectively 8 and 2.. At least 10 plant species were identified as a source of feed for cuscus in Ahe Island recreation area. Plant parts consumed by cuscus were fruit and young leaves but based on level of need most of the cuscus consumed fresh fruit because of its sweet taste and high water content that helps the digestive process. Biodiversitas; ISSN: 1412-033X Volume 14 Number 2 October 2013 Pages: 95-100Medicine Health and Life Sciences
Pristine Mangrove Community in Wondama Gulf West Papua Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/TNPZH5Dharmawan I Wayan Eka Widyastuti AndriyaniArtikel Jurnal Dataverse2018-08-02T16:10:32ZdigitalPapua shoreline has been considered as the most extensive mangrove area in Indonesia and great size of their trees. It implies that the forest could be a perfect habitat for biota food web due to its high productivity. Wondama mangrove part of Cendrawasih National Park – West Papua had a promising mangrove forest to be discovered. Nevertheless the forest was rarely studied due to limited access and costly so that the scientific data was difficult to be found scientifically. A preliminary study was carried out to identify the condition of mangrove in this area. The objectives of this study was to analyze mangrove community health and structure. Canopy coverage and vegetation structure data were collected from 107 circular plots included three plot areas (radian: 5 m 2.5 m and 1 m) which were distributed to determine three plant classes i.e. tree sapling and seedling respectively. Present study showed that Wondama mangrove is a pristine mangrove community. It had large size of tree trunk diameter by 19.77± 6.55 cm averagely. Its diameter size affected on low tree density which was less than 1000 tree/ha. Those two parameters were strongly negative-correlated each other. On the other hand community canopy was highly covered mangrove area by 82.46±6.43%. Rhizophora has mostly dominated in the forest. Mangrove regeneration in Wondama was excellent referring to density and species composition of sapling-seedling levels. Mar. Res. Indonesia Vol. 42 No. 2. Hal. 67-76Earth and Environmental Sciences
The ecology & distribution of Freycinetia Gaud. (Pandanaceae; Freycinetoidea) in the Indonesian New Guineahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/848XNBSinaga N. I. Megia R. Hartana A. Keim A. P.Artikel Jurnal Dataverse2018-06-07T15:09:06ZdigitalThe study mainly concerns with the species of Freycinetia that occurs in the Indonesian New Guinea including the provinces of Papua and Papua Barat. The study indicates that almost all species of Freycinetia in the Indonesian New Guinea prefer high humidity and abundantly occur along rivers except for the members of the group of species with imbricate leaves which inhabit also secondary forests. Futhermore the members of this group have never been found within the range of 1700 to 3000 m altitudes. This highest range of altitudes is specifically occupied by the members of the groups of species with semi imbricate and grass-like leaves. The costal forests are inhabited by the groups of species with semi and non imbricate leaves. Indonesian New Guinea shares many species with Papua New Guinea except for the members of the group of species with semi imbricate leaves which are more common in Indonesian New Guinea than in Papua New Guinea. On the contrary the members of the group of species with grass-like leaves are more common in Papua New Guinea and becoming rare toward the Indonesian site and becoming absent in the Vogelklop (Bird’s head) except for F. polyclada which is commonly found in Sorong. Indonesian New Guinea possesses 34 species exclusively distributed in the area while Papua New Guinea has 72 species. The two areas share 52 species. Only five species have extra New Guinean distributions i.e. F. excelsa F. funicularis F. marginata F. percostata and F. scandens. REINWARDTIA Vol 13 No 2 pp: 189 − 197Medicine Health and Life Sciences
Keanekaragaman Jenis Ikan di Teluk Arguni Kaimana Papua Barathttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/KI5F7NHadiaty Renny K. Allen Gerald R. Erdmann Mark V.Artikel Jurnal Dataverse2018-06-25T13:53:08ZdigitalLembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah melakukan penelitian di wilayah Papua dengan nama ekspedisi Wilayah Nusantara (EWIN). Penelitian dilakukan selama dua tahun di wilayah Raja Ampat Papua Barat. Pada tahun 2007 penelitian dilakukan di Pulau Waigeo sedangkan tahun 2008 di Pulau Batanta. Hasil penelitian di kedua pulau tersebut mengindikasikan tingginya tingkat endemisitas dan beberapa diantaranya merupakan jenis baru. Sekalipun penelitian di wilayah Papua banyak mendapatkan hasil yang menarik namun sayangnya tidak dapat dilanjutkan. Beranjak dari hasil tersebut berhasil dijalin kerjasama penelitian dengan Conservation International (CI) Indonesia Marine Program. Penelitian dilakukan di 24 stasiun penelitian di wilayah perairan Kaimana Papua Barat. Hasilnya sangat menarik diperoleh 55 jenis ikan dari 20 familia tujuh jenis diantaranya diperkirakan merupakan jenis baru yaitu: Melanotaenia sp. Glossamia sp. Pseudomugil sp1 Pseudomugil sp2 Mogurnda sp. Glossogobius sp. dan Gobiopterus sp. Dua jenis pertama telah dideskripsi pada tahun 2011 yaitu Melanotaenia mairasi Allen & Hadiaty 2011 dan Glossamia arguni Hadiaty & Allen 2011. Jenis lainnya masih perlu diteliti lebih lanjut. Zoo Indonesia Vol. 21 No. 2. Hal. 35-42Earth and Environmental Sciences
The Population Condition and Availability of Feed of Cuscus in the Arfak Mountain Nature Reserve West Papuahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/CD9HQLSinery Anton Silas Boer Chandradewana Farida Wartika RosaArtikel Jurnal Dataverse2018-06-24T20:59:53ZdigitalThe cuscus is a pouched marsupial grouped in the Phalangeridae family which is nocturnal arboreal herbivore and in most cases the tail is prehensile. The animals are legally protected due to low reproduction limited distribution area and high rate of illegal hunting. The illegal hunting happened not only in the production forest areas but also in the reserve areas such as Nature Reserve of Arfak Mountain directly or indirectly affects the life quality of the ecosystem mainly cuscuses population. Therefore it is necessary to do efforts to have a better management of the region to ensure the sustenance of many components in it. This research is aimed to know the population density of cuscus in Arfak Mountain Nature Reserve and carried out for two months. The method used was descriptive by using direct and indirect observation. The result shows that cuscuses existing in the Arfak Mountain conservation area were northern common cuscus (Phalanger orientalis) ground cuscus (Phalanger gymnotis) and common spotted cuscus (Spilocuscus maculatus). The biggest individual number is of P. orientalis with 39 individuals consisting of 18 males and 21 females the second is of P. gymnotis with 10 individuals consisting of 4 males and 6 females and the smallest is of S. maculatus with 9 individuals consisting of 4 males and 5 females. From the total of 58 cuscuses there are 38 adult and 20 young cuscuses. There are 20 forest plant species identified as feed resources of cuscus in Arfak Mountain Nature Reserve. The parts of forest plant consumed by cuscus are fruits and young leaves. P. gymnotis also consumes small insects such as grasshopper. The cuscuses spread from lowland forest to highland forest (2 900 m asl.) Biodiversitas Vol. 13 No. 2. Hal. 86-91 ISSN 1412-033XEarth and Environmental Sciences
Detection of upwelling using modis image and triton buoy in the North Papua Watershttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/EZXXW6Satrioajie Widhya NugrohoArtikel Jurnal Dataverse2021-03-06T06:49:05ZdigitalUpwelling is closely associated with the spatial distribution of fish biomass. However this phenomenon is often ignoreddue to misinterpretation that is simply using sea surface temperature (SST) to analyse deep fish biomass. Upwelling can bedetected by analysing distribution of sea surface (SST) and vertical temperature at the various depths. One of the methods isthe use of MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) image and TRITON buoy (Triangle Trans-Ocean buoyNetwork) as in-situ data. This research aimed to observe the correlation between SST MODIS and TRITON buoy and to analyse sea vertical temperature in order to investigate the upwelling in the North Papua Waters. Descriptive method was used on this study where SST MODIS that was analysed by SeaDas Mapped 5.0 was compared to the TRITON buoy’s SST data during July 2002 to November 2002 (in east season 2002); December 2006 to February 2007 (in west season 2007) and July 2007-September 2007 (in east season 2007). Then the analysis of upwelling was carried out towards the TRITON buoy’s vertical temperature on the particular coordinates using ER.Mapper 6.4 and Surfer 3.2. From this research both of SST MODIS image and TRITON buoy have a strong relationship by r=0.5738; 0.5989; 0.5509 respectively. The upwelling in the North Papua Waters was indicated in February 2007 (west season 2007) when the l degradation level of SST reached up to 26oC.Earth and Environmental Sciences
Dendrobium nagataksaka (Orchidaceae: Epidendroideae) a new species of section Spatulata from Papua Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/SUHYHSMetusala DestarioKR Purwodadi Dataverse2021-03-06T06:38:27ZdigitalMorphological data of Dendrobium nagataksaka (Orchidaceae) from PapuaAgricultural Sciences Earth and Environmental Sciences
Karakteristik Fisika-Kimia Sungai Inlet-Outlet Danau Sentani Papuahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/QWNJ3PHandoko Unggul Suryono Tri Sadi Nina HermayaniProsiding Dataverse2018-09-12T21:57:31ZdigitalStudi karakteristik fisik dan kimia sungai inlet dan outlet di Danau Sentani Papua telah dilakukan pada tanggal 26-27 April 2014. Jumlah sungai inlet dan outlet di Danau Sentani yang dilakukan pengukuran ada 17 sungai yang terdiri dari 16 sungai inlet dan 1 sungai outlet.Hasil pengukuran menunjukkan bahwa debit terbesar ada di Sungai Doyo (inlet) yaitu sebesar 18 98 m3/s dan yang kedua adalah di Sungai Jaifuri (outlet) yaitu sebesar 15 66 m3/s. Hasil pengkuran sifat fisika air menunjukkan suhu (23 70C-30 50C.) Konduktivitas (0 1mS/cm -1 1mS/cm) TDS (0 1mg/L- 0 7mg/L) dan Salinitas (0%-1%). Sedangkan hasil pengukuran sifat kimia air menunjukkan pH (6 9- 8 5) ORP (36mV-194mV) dan DO (1 5mg/L – 12 1mg/L) . Dari nilai-nilai tersebut dapat diketahui bahwa sungai inlet dan outlet di Danau Sentani sudah ada yang terindikasi tercemar. Indikasi pencemaran ini diketahui dari kadar DO yang rendah di Sungai Kanda2 yaitu 1 5 mg/L. Prosiding Seminar Nasional Limnologi VII Tahun 2014. Hal. 226-236 ISBN 978-979-8163-20-3Earth and Environmental Sciences
Rantai Pasokan Produk Tumbuhan Gaharu (Aquilaria spp.) Asal Merauke Papuahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/Y7PDUSSemiadi G. Wiriadinata H. Waluyo E .B. Darnaedi D.Artikel Jurnal Dataverse2018-06-20T16:19:17ZdigitalPapua merupakan salah satu wilayah yang memiliki area produksi gaharu (Aquilaria spp.) yang sangat luas. Disinyalir produksi utama panenan gaharu dalam bentuk kamedangan di Merauke berasal dari daerah rawa. Namun informasi tersebut masih diragukan. Untuk itu dilakukan survei lapang ke Jayapura dan Merauke (Papua) dan Probolinggo (Jawa Timur) guna memahami kondisi sebenarnya tentang potensi gaharu. Responden yang diwawancari mencakup petugas BBKSDA dan pengumpul besar di Jayapura dan Merauke perusahaan ekspedisi petugas gudang pengumpulan dan administrator pelabuhan di Probolinggo. Hasil survei menunjukkan bahwa produksi utama panenan gaharu di Merauke yang berasal dari dalam rawa merupakan sisa produk tebangan masa lampau. Dalam satu tahun pengeluaran resmi gaharu dari wilayah BBKSDA Papua mencapai 100 ton. Sedangkan jumlah pengeluaran secara ilegal diperkirakan mencapai angka yang hampir sama. Hasil survei lapang ke Kabupaten Asmat dan Mappi yang dilakukan BKSDA seksi wilayah I Merauke pada tahun 2007 menunjukkan produksi kamedangan di kedua wilayah tersebut cukup tinggi. Satu kapal barang sedikitnya membawa 175 karung gaharu sedangkan pada kapal khusus pengangkut gaharu dapat mencapai 2.100 karung. Produksi gaharu dari dua kabupaten tersebut seluruhnya diangkut lewat laut ke Probolinggo. Bobot per karung kamedangan maupun abuk gaharu mencapai 58-90 kg dengan kandungan air 54-87 4%. Kriteria penetapan kuota asal Merauke perlu diperhatikan agar terhindar dari masalah terlalu rendahnya perkiraan produksi atau salah pengertian mengenai produk dan potensi produksi yang ada. Selain itu verifikasi jenis tanaman gaharu asal Papua masih diperlukan. Buletin Plasma Nutfah Vol.16 No.2 Th.2010Medicine Health and Life Sciences
The Pandan Flora of Foja-Mamberamo Game Reserve and Baliem Valley Papua-Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/TDZ2LWKeim Ary PrihardhyantoArtikel Jurnal Dataverse2018-06-20T21:42:52ZdigitalSeven species of Pandanus and seven species of Freycinetia are observed in Kwerba and adjacent areas within the Foja-Mamberamo Game Reserve Papua-Indonesia. Two species are proposed as new: Freycinetia kwerbaensis A.P. Keim and Pandanus korwae A.P. Keim. This recent study also acknowledges a new record for F. mariannensis and a possibly new record for F. vidalii. The rest are extension of distribution areas in mainland New Guinea. The discovery of a long searched almost mythical wild type of widely cultivated P. conoideus is also accomplished. A new species from Baliem Valley nearby Wamena in the Jayawijaya Mountains Papua- Indonesia namely F. wamenaensis A.P. Keim is described. REINWARDTIA Vol. 13 No. 3. Hal. 271-297 ISSN 0034-635XEarth and Environmental Sciences
Kelimpahan Dan Komposisi Fitoplankton Di Danau Sentani Papuahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/UNYAQ6Astuti Lismining Pujiyani Satria HendraArtikel Jurnal Dataverse2018-04-04T14:46:11ZdigitalDanau Sentani terletak di Kabupaten Jayapura pada ketinggian 70-90 m di atas permukaan laut dengan luas 9360 ha memiliki fungsi sebagian lahan kegiatan perikanan tangkap perikanan budidaya dan pariwisata. Fitoplankton merupakan salah satu biota penting di perairan dan merupakan indikator kualitas perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan fitoplankton di Danau Sentani. Pengumpulan data dengan metode survei berstrata pada kedalaman 0 2 4 8 m di empat lokasi penelitian. Penelitian dilakukan pada bulan September dan November 2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan fitoplankton berkisar 28.168-246.464 ind/l yang terdiri atas lima kelas dan 30 genera yaitu Chlorophyceae (15 genera) Cyanophyceae (5 genera) Bacillariophyceae (6 genera) Dinophyceae (2 genera) dan Euglenaphyceae (2 genera). Tingginya kelimpahan fitoplankton terkait dengan kondisi danau yang telah mengalami eutrofikasi. Tingkat keanekaragaman fitoplankton cenderung sedang dan kemerataan yang rendah hingga relatif meratan anamun pada pengamatan di bulan November terdapat dominansi jenis fitoplankton yaitu Peridinium sp sebesar 80 persen di Teluk Yope. Limnotek Vol. XVI No. 2 ISSN : 0854-8390Earth and Environmental Sciences
Averrhoa spp. Di Kebun Raya Bogor dan upaya konservasinya. https://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/HWMWSQAstuti Inggit Puji RugayahProsiding Dataverse2018-02-16T05:49:26ZdigitalAverrhoa was one of the member belong to Oxalidaceae family (Bilimbing-bilimbingan). In the begining this genera only known have two species as this member. Both of this species were Averrhoa bilimbi L. and Averrhoa carambola L. The distribution of two species widespread from Eastern Brazil up to Malesia and also both most planted as cultivation plant at other tropic area. On 1998 Bogor Botanical Garden have an Averrhoa wild species original from Papua and on 2002 collected Averrhoa wild species from Papua Nature Reserve Boalemo Regency Gorontalo Province Celebes. On 2007 both Averrhoa wild species collection identify by taxonomies at Herbarium Bogoriense i.e. Averrhoa dolichocarpa Rugayah & Sunarti from Papua and Averrhoa leucopetala Rugayah & Sunarti from Gorontalo. Wild Averrhoa collection which was original from Papua Nature Reserve have been planted at vak XXIV.B.79 with collector number IP. 398 and wild Averrhoa from Cyclop Papua have been planted at XII.D.96 both of plants collection use as living type species. Information about the distribution and population of two species still limited so this catagory of conservation status belong to Deficient Data (DD). With identify of two new species Averrhoa show that in Averrhoa genera now have four member species. The fourth of Averrhoa species as collection plants in Bogor Botanical Garden for conservation propagation and potencial developing. Astuti Inggit Puji lihat Hidayat Syamsul 2009 (068) (070) Astuti Inggit Puji lihat Kusuma Yayan W.C. 2009 (086) Astuti Inggit Puji lihat Munawaroh Esti 2009 (099) Prosiding Konservasi Flora Indonesia dalam Mengatasi Dampak Pemanasan Global. Bali 14 Juli 2009 Kebun Raya Eka Karya Bali hal. 261-264.Medicine Health and Life Sciences
Inventarisasi Jenis-jenis Rumput Laut di Perairan Misol Papua Barathttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/O9ABW6Arfah HairatiArtikel Jurnal Dataverse2018-08-07T17:56:18ZdigitalPenelitian inventarisasi jenis-jenis rumput laut di perairan Misol Papua Barat pada bulan Maret- April 2007. Metode traske dipakai dalam menghitung kepadatan total dan dominasi rumput laut pada setiap pengamatan. dari hasil pengamatan diperoleh 29 jenis rumput laut terdiri 9 jenis (rhodophyta) 6 jneis (chlorophyta) dan 4 jenis (Phaeophyta). Kepadtaan tertinggi terdapat di Pilau Kampong lama Yakni; 869 2 gr/m2 dari kelompok Chlorophyta yaitu dari marga Halimeda disusun oleh kelompok Rhyodophyta dengan kepadatannya: 164 2 gr/m2 dan 50 4-gr/m2 di Kampong lama. Frekwensi kehadiran tertinggi dari marga Halimeda (28 89 persen) di Pulau Mustika sedangkan dari kelompok rhodophyta marga Gracilaria yakni (11 11 persen). Untuk dominasi tertinggi diperoleh di Pulau Kampong Lama dari marga Halimeda (47 50 persen) disusun oleh marga Ceretodictyon (19 30 persen) dan Gracilaria (14 86 persen). Dengan adanya nilai variasi kepadatan frekuwensi kehadiran dominasi rumput laut diduga berhubunganerat dengan keanekaragaman habitat. Bulitbang Vol. 11 No. 2a. Hal. 15-93 ISSN 1412-3703Earth and Environmental Sciences
Keanekaragaman Jenis Ikan Karang Di Perairan Pesisir Biak Timur Papuahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/NDASUVMarasabessy Muhammad DjenArtikel Jurnal Dataverse2018-11-22T15:02:56ZdigitalEkosistem terumbu karang merupakan salah satu potensi sumberdaya laut yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Potensi sumberdaya ikan karang di perairan Indonesia perlu diketahui agar dapat dikembangkan sebagai salah satu aset dalam kegiatan pariwisata bahari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang keanekargaman jenis ikan karang di perairan Biak Timur Papua yang dilakukan pada bulan Nopember dan Desember 2007 dalam rangka pengembangan wisata bahari di daerah tersebut. Metode line transect dan sensus visual digunakan untuk mengetahui keberadaan dan potensi ikan karang di tiga lokasi yaitu Desa Yenusi Segara Indah dan Ariom pada kedalaman tiga dan 10 meter. Selama penelitian berhasil diidentifikasi sebanyak 223 jenis ikan yang mewakili 32 suku. Keanekaragaman jenis ikan dijumpai relatif lebih tinggi pada kedalaman 10 m dibandingkan dengan kedalaman tiga m. Ikan-ikan dari famili Pomacentridae mendominasi ketiga lokasi penelitian. Kelompok ikan target dari suku Caesionidae mendominasi lokasi Yenusi sedangkan suku Acanthuridae mendominasi lokasi Segara Indah dan Ariom. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 36 No 1. Hal: 63-84 ISSN 0125-9830Earth and Environmental Sciences
Murraya sp. Dari Cyclops : Karakteristik morfologi dan persebarannyahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/W3U6XOLugrayasa I Nyoman Astuti Inggit Puji SutrisnoProsiding Dataverse2018-02-16T05:49:24ZdigitalMurraya sp. has been collected from Cyclops Papua and cultivated in the Bogor Botanic Garden. It is located in the garden section XXIV.A. 192 and registered as a collection with accession number B20010319. Earlier identification based on the herbarium specimen of National Herbarium Leiden suggested that the species was Murraya paniculata (L.) Jack. However after the plant is in generative phase it exhibits some characters apparently different from M. paniculata. The plant produces smaller and shorter flowers pink round- fruit clearly different from M. paniculata fruit that is eliptic and brightly red coloured and smaller seeds with shorter hairs. Further research is needed to explain the taxonomic status of Murraya sp. which is distributed mainly in Papua (Cyclops) Papua New Guinea Solomon Island and Fiji Prosiding Konservasi Flora Indonesia dalam Mengatasi Dampak Pemanasan Global. Bali 14 Juli 2009. Kebun Raya Eka Karya Bali hal. 590-594Medicine Health and Life Sciences
Floristic Diversity And Structural Characteristics Of Mangrove Forest Of Raja Ampat West Papua Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/BIDB5DSuhardjono Kartawinata KuswataArtikel Jurnal Dataverse2021-03-07T23:27:26ZdigitalWe studied the floristic composition and structure of mangrove forests and mangrove species distribution at the Raja Ampat Regency West Papua. We sampled the forests using (10×10 m) quadrats to record trees and saplings laid out contiguously along 9 transects of 60 – 450 m long stretching perpendicularly from the coastlines or riverbanks to the landward borders. Seedlings were sampled using a 1×1 m subplot nested in each quadrat. The transects were established on the islands of Batanta (6) Salawati (2) and Waigeo (1). Within quadrats and transects we recorded 17 mangrove species of trees with density of 768 stems/ha and basal area of 37.82 m2/ha and tree height of 10 – 30 m. Two species possessed the highest importance value (IV) frequency density and basal area i.e. Rhizophora apiculata (IV = 168.06%) and Bruguiera gymnorrhiza (IV = 67.18%). They also showed the highest similarity in their distribution indicating highest degree of association. The mangrove at Raja Ampat may therefore be designated as the Rhizophora apiculata – Bruguiera gymnorrhiza association. Other species with highest degree of distributional similarities but with low densities basal areas and importance values were Barringtonia racemosa Excoecaria agallocha Hibiscus tiliaceus Inocarpus fagifera Lumnitzera littorea and Sterculia shillinglawii of which four of them are not true mangrove species usually growing on less saline and more solid soils. The floristic composition of the transects in the three islands showed relatively high similarities of about 70% and at higher similarities the transects in Batanta Island formed four groups Salawati Island two groups and Waigeo Island one group. The Bray-Curtis polar ordination resulted in four groups of transects which were related to the habitat conditions and the length of the transects. Species diversity in the islands was very low where the Shannon diversity index ranged from 0.19 to 0.64 giving the average of 0.42. Rhizophora apiculata and Bruguiera gymnorrhiza were gregenerating well and in the future they will remain dominant. The mangrove forests of the Raja Ampat Islands by any means should be maintained as green belts and protected from all kinds of destruction and should be made into conservation areas in order to sustain its ability to provide ecological services and non-destructive economic benefits. Reinwardtia Vol. 14 No. 1. 2014. P: 171-180. ISSN: 0034-365XMedicine Health and Life Sciences
Anatomy and Ultrastructure of Simpur Wood (Dillenia Sp.)https://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/ZLEMSXBudiman Ismail Purnawati Renny Wahyudi ImamProsiding Dataverse2018-10-10T20:22:43ZdigitalSimpur wood or Dillenia sp as one of the Indonesian fast growing tree species has been studied extensively. In this study morphological anatomical and ultrastructure features of Dillenia sp. were examined by light microscope (Primostar Zeiss and Axio Imager A1m Zeiss) and Scanning Electron Microscope (SEM Zeiss EVO 50). The results showed that growth rings of the wood were indistinct.Two types of parenchyma were found; paratracheal axialand apotracheal axial. The wood involved two sizes of rays: uniseriate and 3-5 seriates. Other characteristics of the wood are vessels diffuse predominantly solitary moderately large and distinct. Perforation scalariform with 20-40 bars. Fibers very thickwalls with distinctly bordered pits mainly in the radial walls and have 1-3 mm long. Simpur wood also has long fibers and potential for pulp and paper production. Proceedings of The 7th International Symposium of IWoRS 5-6 November 2015 Bandung. Hal. 207-214 ISSN 2459-9867Agricultural Sciences
Ficus Dammaropsis Diels Pohon ‘Buah Naga’ dari Tanah Papuahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/BOGMBNHartini SriArtikel Jurnal Dataverse2018-03-07T14:34:24ZdigitalThe dinner plate fig Ficus dammaropsis Diels (family Moraceae) is tropical big tree with giant leaves. It is native to New Guinea. The tree can reach 4-10 m tall. The thick leaves are deeply veined and wavy. It is cauliflorus the figs can get to be the size of a baseball with numerous red or yellow coriaceous lateral bracts so it is very similar to a dragon fruit. The general usefulness of this plant is as an ornamental plant but the fruit and young leaves of which are eaten by indigenous people of New Guinea. Warta Kebun Raya Vol. 12 No. 1 Mei 2013. Hal. 15-19 ISSN 0215-5001Medicine Health and Life Sciences
Interrelation Between Aquatic Plant and Abundance of Fish in Lake Sentani Papuahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/4JME4CRiky Kumiawan Nasution Syahroma HusniProsiding Dataverse2018-09-13T20:20:29ZdigitalLake Sentani regarded as one of the Indonesia’s conservation priority lakes for conservation in 2010-2014 according to national conference of Indonesian lakes II in Bali on 2009 concern about sustainable lake management. Aquatic plant is the parameter of waters biotic diversity that has a role as a feeding ground for fish a spawning ground for fish a nursery ground for fish and shelter ground for fish from predators. The purposes of this research is aimed to study interrelation between aquatic plants and abundance of fish in Lake Sentani. This research conducted in April 2014 the samples of aquatic plant and fish conducted in 4 station: St.1 (Doyo lama) St.2 (Dondai) St.3 (Outlet/S. Jaifuri) and St.4 (Inlet/S. Deyau). Aquatic plant samples were obtained using plot methods (1 x 1 m2) and fish samples were obtained using experiment gill net with ¾ 1 1½ 2 and 3 inch mesh size during 2-3 hours. Ceratophyllum sp. Vallisneria sp. Polygonum sp. Eicchornia crassipes and Pandanus sp. were the dominant species of aquatic plants. Ceratophyllum sp. and Vallisneria sp. were dominant at the station where the abundance of fish Hewu (Glossolepis incisus) were high and water quality parameters such as Conductivity TP pH TDS TOM and Chlorophyll-a also support for fish growth in Lake Sentani. Proceeding of International Biology Conference (IBOC) 2014: Biodiversity and Biotechnology for Human Welfare Vol. 1: Biodiversity Energy and Environmental Science. Hal. 139-143 ISBN 978-979-97316-3-0Earth and Environmental Sciences
Screening Antimicrobial Activity of Actinomycetes Isolated from Raja Ampat West Papua Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/2Y2JSWNurkanto Arif Julistiono Heddy Agusta Andria Sjamsuridzal WellyzarArtikel Jurnal Dataverse2018-11-29T21:11:24ZdigitalIn the framework of exploitation of antimicrobial activity of Actinomycetes in Papua one hundred isolates of Actinomycetes isolated from soil and leaf litter samples from various ecosystems in Batanta and Salawati Island Raja Ampat West Papua were screened. We obtained 200 crude extracts from 100 isolates based on two extraction phases. Nonpolar metabolites were extracted by ethyl acetate : methanol (4:1) solvent while the polar metabolites were concentrated using a freeze-drying method. Based on the agar dilution method a total of 43 from 200(21.5%) crude extracts have antimicrobial activity against bacteria and yeasts (Escherichia coli NBRC 14237 Bacillus subtilis NBRC 3134 Staphylococcus aureus NBRC 13276 Micrococcus luteus NBRC 1367 Candida albicans NBRC 1594 and Saccharomyces cerevisiae NBRC 10217). Some crude extracts showed anti-Gram negative (1.5%) anti-Gram positive (17%) and antifungal (17%) activities. Crude metabolites which were extracted using ethyl acetate : methanol were more effective on antimicrobial activity (35%) compared with water extraction (17%). Five most potential isolates (BL- 13-5 BL-06-5 BL-14-2 BL-22-3 and Sl-36-1) were identified based on 16S rRNA gene sequence data. Sequence similarity search by BLAST program revealed that they show sequence similarities to Streptomyces kanamyceticus (92%) Streptomyces verne (92%) Streptomyces narbonensis (92%) Streptomyces malachitofuscus (98%) and Streptomyces hygroscopicus (96%) respectively. Makara Journal of Science Vol. 16 No. 1. Hal. 21-26Chemistry
Melanotaenia Sneideri A New Species Of Rainbowfish (Melanotaeniidae) From West Papua Province Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/3AMZOOHadiaty Renny KurniaArtikel Jurnal Dataverse2018-05-30T14:07:21ZdigitalA new species of melanotaeniid rainbowfish Melanotae- nia sneideri is described from the Bomberai Peninsula in the southwestern Bird’s Head region of western New Guinea (West Papua Province Indonesia). The new taxon is described on the basis of 25 specimens 15.9-80.1 mm SL collected from a karst spring-fed creek in a small ephemeral lake basin at an altitude of 1 050 m in the Kumawa Mountains. It is distinguished from congeners by a combination of the bright red body colour dark brown to blackish dorsal anal and pelvic fins and relatively deep body (to at least 42.3 persen of SL) of adult males. Additional diagnostic features include 18-20 gill rakers on the first branchial arch 15-16 circumpeduncular scales and an absence of vomerine teeth or a small inconspicuous patch of rudimentary vomerine teeth. Aqua International journal of Ichthyology Vol. 19 No. 3. P: 137-146.Medicine Health and Life Sciences
Two New Butterflies (Lepidoptera Lycaenidae) From The Collections Of The Museum Zoologi Bogor Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/Y8ZPUDTennent W. John Müller Chris J Peggie DjunijantiArtikel Jurnal Dataverse2018-08-29T17:43:56ZdigitalTwo new species of butterfly Epimastidia suffuscus sp.n. and Paraduba tenebrae sp.n. (Lycaenidae) are described from the collections of the Museum Zoologi Bogor (MZB) Indonesia. Their probable provenance almost certinly West Papua is discussed in detail. Tropical Lepidoptera Research Vol. 24 No. 1. 2014. P: 10 - 14Medicine Health and Life Sciences
Non-Bambusoid Grasses (Gramineae) from Raja Ampat Archipelago Papua Barat Province Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/LKWO5YSumadijaya Alex Veldkamp Jan FritsArtikel Jurnal Dataverse2018-06-20T20:49:54ZdigitalThirty two species of non-bambusoid grasses from 28 genera were recorded for the Raja Ampat Archipelago Papua Barat Province Indonesia mostly from secondary forest. The result was compiled from Widya Nusantara Expedition (EWIN) Takeuchi (2003) and Van Royen (1960). This is a first attempt to record non-bambusoid grasses for a remote archipelago in Indonesia. REINWARDTIA Vol. 13 No. 3. Hal. 241-253Earth and Environmental Sciences
Populasi ko-okurensi dan preferensi habitat Areca macrocalyx di Pulau Waigeo - Papua Barathttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/JPNRIAWidyatmoko DidikArtikel Jurnal Dataverse2020-02-24T02:07:40ZdigitalPenelitian status populasi dan preferensi habitat pinang Papuasia Areca macrocalyx Zippelius ex Blume di Pulau Waigeo (Papua Barat) telah dilakukan pada tahun 2012. Area studi telah mencakup berbagai tipe habitat dan asosiasi vegetasi: tepi sungai lereng (punggung) bukit puncak bukit hutan alami hutan terganggu dan hutan terkonversi. Ukuran populasi bervariasi secara spasial dan didominasi oleh semai (62%) dan juvenil (24%); mengindikasikan populasi yang berkembang rekruitmen dan mortalitas berlangsung secara simultan dan dipengaruhi oleh kelimpahan individu. Area tepi sungai dengan kondisi hutan masih alami merupakan habitat yang paling sesuai. Walaupun pinang ini masih bisa tumbuh di puncak bukit yang kering tetapi populasinya menjadi jarang dan nampak sensitif terhadap terjadinya gangguan dan ketersediaan air tanah. Sejumlah faktor edafik mempengaruhi kelimpahan populasi dengan preferensi pada habitat berdrainase baik dengan kandungan magnesium (Mg²+) tinggi. Tanah dengan PH tinggi juga berkorelasi erat dengan keberadaan pinang ini. Hasil pengukuran tingkat asosiasi dengan menggunakan Index Ochiai empat species tumbuhan (Licuala graminifolia Tabernaemontana aurantiaca Orania regalis dan Sommieria leucophylla) berasosiasi positif dengan A. macrocalyx sedangkan sepuluh lainnya berasosiasi negatif. Pinang ini cenderung tumbuh pada habitat dengan rasio karbon/nitrogen (C/N) rendah sedang dimana sebagian besar populasi tumbuh dihabitat dengan C/N 10. Berdasarkan uji korelasi magnesium (Mg²+) dan kalsium (Ca²+) lebih berpengaruh terhadap densitas dan frekuensi daripada terhadap tajuk dan area basal. Persentase mortalitas nampak tinggi pada fase semai tetapi menjadi rendah pada fase dewasa. Efektivitas konservasi akan sangat tergantung pada pengelolaan habitat-habitat yang paling sesuai dan faktor-faktor biotik yang berkaitan. Jurnal Biologi Indonesia vol.11 No.1 Hal. 97-107 ISSN 0854-4425Medicine Health and Life Sciences
Populasi Dan Referensi Habitat Pinanga Rumphianadi Pulau Waigeo Papua Barathttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/BBTKSCWidyatmoko DidikProsiding Dataverse2018-02-16T06:18:14ZdigitalPenelitian status populasi dan preferensi habitat pinang Papuasia Pinanga rumphiana (Mart.) J. Dransf. & Govaerts di Pulau Waigeo telah dilakukan pada tahun 2007. Area studi mencakup berbagai tipe habitat dan asosiasi vegetasi: tepi sungai lereng bukit puncak bukit hutan alami hutan terganggu dan hutan terkonversi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi didominasi oleh semai (58%) dan juveniles (31%); mengindikasikan populasi yang berkembang rekruitmen dan mortalitas berlangsung secara simultan dan dipengaruhi oleh kelimpahan individu. Besarnya populasi bervariasi secara spasial di mana lereng bukit dengan kondisi hutan masih alami merupakan habitat paling sesuai. Walaupun pinang ini masih bisa tumbuh di puncak bukit yang kering tetapi populasinya menjadi jarang. Pinang ini nampak sensitif terhadap terjadinya gangguan pada habitat di mana rekruitmen nampak tertekan. P. rumphiana memasuki fase dewasa setelah tinggi batangnyamencapai 1 5 m. Sejumlah faktor edafik mempengaruhi kelimpahan populasi dengan preferensi pada habitat berdrainase baik dengan kandungan magnesium (Mg2+) tinggi. Tanah dengan pH tinggi juga berkorelasi erat dengan keberadaan pinang ini. Berdasarkan tingkat asosiasinya (menggunakan Index Ochiai) lima spesies tumbuhan tropika (Orania regalis Hydriastele costata Licuala graminifolia Decaspermum bracteatum dan Casuarina rumphiana) berasosiasi positif dengan P. rumphiana sedangkan sembilan lainnya berasosiasi negatif. Pinang ini cenderung tumbuh pada habitat dengan rasio Karbon/Nitrogen (C/N) sedang di mana semua cuplikan populasi tumbuh di habitat dengan C/N >10. Berdasarkan uji korelasi Magnesium dan Kalsium (Ca2+) lebih berpengaruh terhadap densitas dan frekuensi daripada terhadap tajuk dan area basal. Persentase mortalitas nampak tinggi pada fase semai tetapi menjadi rendah pada fase dewasa. Efektivitas konservasi tergantung pada proteksi terhadap habitat-habitat yang paling sesuai. Prosiding Seminar Nasional Biologi ""Perspektlf Bioiogi dalam Pengelolaan Sumberdaya Hayati"" Fakultas Biologi UGM. Yogyakarta. 24-25 September 2010. hal. 190-199Medicine Health and Life Sciences
Perbanyakan Anggrek Dendrobium spp. Secara In Vitro Koleksi Kebun Raya Bogor dari Papuahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/AUA8WRGarvita R. Vitri Handini ElizabethProsiding Dataverse2018-03-04T02:41:00ZdigitalHutan hujan tropis Papua kaya akan keanekaragaman hayati yang tinggi baik flora maupun fauna salah satunya yaitu kekayaan anggrek alamnya yang berjumlah sekitar 2.500 spesies. Dendrobium merupakan genus terbanyak dalam keluarga Orchidaceae anggrek epifit yang bunganya sangat menarik. Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor berperan penting dalam konservasi ex-situ anggrek alam Indonesia melakukan perbanyakan anggrek alam secara in vitro. Perbanyakan anggrek secara in vitro diharapkan mampu menghasilkan bibit dalam jumlah yang lebih banyak dalam waktu yang relatif lebih singkat jika dibandingkan dengan perbanyakan secara konvensional. Telah dilakukan perkecambahan perbanyakan dan pembesaran anggrek ini pada empat jenis media kultur. Kultur biji Dendrobium spp. mampu berkecambah perbanyakan dan pembesaran pada beberapa macam media seperti media modifikasi MS modifikasi KC modifikasi Hyponex dan modifikasi VW. Prosiding Ekspose Pembangunan Kebun Raya dan Seminar Konservasi Flora Indonesia: Membangun Kebun Raya untuk Penyelamatan Keanekaragaman Hayati dan Lingkungan Menuju Ekonomi Hijau. Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor-LIPI. Hal. 803-812 ISBN 978-979-799-825-7Medicine Health and Life Sciences
Hutan mangrove di Kalitoko Teluk Mayalibit Pulau Waigeo Kabupaten Raja Ampat Propinsi Papua Barathttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/EXBVQESuhardjonoArtikel Jurnal Dataverse2021-03-06T01:49:35ZdigitalA reseach on mangrove vegetation has been conducted in Kalitoko Mayalibit Bay Waigeo Island Raja Ampat Distric Papua Barat Province. The results showed that the diversity of mangrove in Kalitoko was relatively high. About 65 species of mangrove (56 genera and 35 families) has been recorded. Among them 21 species were classified as rare species based on IUCN list with status VU and CR. The result of vegetation analysis of one transect which cover 4 500 m2 of mangrove forest in this location recorded 18 species of mangrove plants with level density was 549 individual/ha and its basal area was 18.61 m2/ha. For the sapling the density was 1 514 individual/ha and its basal area 3.86 m2/ha. While the seedling density up to 194 889 individual/ha.Agricultural Sciences Medicine Health and Life Sciences
Pendugaan Stok Ikan Karang Di Perairan Biak Dan Kepulauan Padaido Papuahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/F54CZMLorwens Jonas Tanda La Wouthuyzen SamArtikel Jurnal Dataverse2018-04-24T21:15:05ZdigitalPendugaan Stok ikan ditujukkan untuk mendapatkan informasi jumlah atau berat ikan di suatu perairan untuk keperluan pengelolaan berkelanjutan. Studi ini dilakukan di pesisir selatan pulau Biak Kepulauan Padaido bawah dan atas (77 stasiun)dengan tujuan mendapatkan gambaran tentang stok ikan karang serta dinamikanya. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Volume 39 Nomor 3 Hal. 347-367Agricultural Sciences
Four New Species of Rainbowfishes (Melanotaeniidae) from Arguni Bay West Papua Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/0RPYM3Kadarusman Hadiaty Renny K. Segura Gilles Setiawibawa Gigih Caruso Domenico Pouyaud LaurentArtikel Jurnal Dataverse2018-06-21T17:09:59ZdigitalFour new species of Rainbowfishes are described from the Arguni region. These species are allied to the species already known from the Bomberai Peninsula and the Bird’s Neck namely Melanotaenia ammeri M. irianjaya M. kokasensis M. parva and M. angfa. The new species M. urisa is characterised by a thin and elongated body a long predorsal length a short preanal length a long and thin caudal peduncle short fins and by relatively large eyes. In contrast M. arguni sp. nov. is distinguished from all of its congeners by small eyes a thin body a moderately long predorsal length a long preanal length and a short and thin caudal peduncle. Melanotaenia veoliae sp. nov. displays an original pattern of colouration few cheek scales a large interorbital width and a long spine length on the anal fin. Melanotaenia wanoma sp. nov. is recognised by an elongated body with a short and thin caudal peduncle a short predorsal length with a long total dorsal fin a long preanal length and a prominent margin stripe present on anal and second dorsal fin. Cybium Vol. 36 No. 2. Hal. 369-382Earth and Environmental Sciences
Musim Pemijahan Kerang Darah di Perairan Pulau Auki Padaido Biak Papuahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/XGMZGTWidyastuti AndrianiArtikel Jurnal Dataverse2018-04-26T13:36:05ZdigitalTujuan penelitian ini untuk menganalisis musim pemijahan kerang darah sehingga dapat dilakukan pengelolaan pada saat-saat pemijahannya. Pada habitat pasir nisbah kelamin kerang darah jantan dan betina adalah 1 00 : 1 92. Pada habitat lamun nisbah kelamin kerang darah jantan dan betina adalah 1 00 : 1 67. Hasil pengamatan terhadap gonad kerang darah (A. antiquata) yang diperoleh baik secara morfologi maupun histologi dapat dibedakan menjadi lima tahap perkembangan yaitu TKG I (resting phase/fase istitahat) TKG II (developing phase/fase perkembangan) TKG III (maturing phase/fase pematangan) TKG IV (partially spent/salin sebagian) dan TKG V (full spent/salin sempurna). Pemijahan kerang darah terjadi sepanjang bulan dengan puncak pemijahan pada bulan September-Oktober 2009. Jurnal Moluska Indonesia Volume 1 Desember 2010Earth and Environmental Sciences
A synopsis of new plant distributional records from the Foja Mountains of Papua Province Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/VHWYAUTakeuchi W. Arifiani D.Artikel Jurnal Dataverse2018-06-06T21:07:32ZdigitalPlant distributional records are reported from Conservation International's Foja expeditions. The floristic range extensions are compiled from alluvial lowland forest and cloudy upland habitats to 1900 m. Sixteen taxa are briefly discussed including 4 fems 1 monocot and 11 dicots. Synonymies are newly proposed for Embelia kuborensis (Myrsinaceae) Medinilla sapoi-riverensis (Melastomataceae) and Pneumatopteris subappendiculata (Thelypteridaceae). Rekaman persebaran tumbuhan dilaporkan dari hasil survei Ekspedisi Foja yang disponsori oleh Conservation International. Perluasan kisaran floristik dikompilasi dari hutan dataran rendan aluvial dan dari habitat-habitat pegunungan berawan sampai ketinggian 1900 m. Enam belas taksa dibahas secara singkat meliputi 4 tumbuhan paku-pakuan 1 tumbuhan monokotil dan 11 tumbuhan dikotil. Kesinoniman diusulkan untuk Embelia kuborensis (Myrsinaceae) Medinilla sapoi-riverensis (Melastomataceae) dan Pneumatopteris subappendiculata (Thelypteridaceae). Harvard Papers in Botany 15(1):41-50 · June 2010Medicine Health and Life Sciences
Komposisi Tumbuhan Air dan Tumbuhan Riparian di Danau Sentani Provinsi Papuahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/M2YOD0Paramitha I Gusti Ayu Agung Pradnya Kurniawan RikyArtikel Jurnal Dataverse2018-09-16T17:42:50ZdigitalTumbuhan air dan tumbuhan riparian memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem suatu perairan. Komponen tumbuhan yang hilang dari suatu perairan dapat menyebabkan sedimentasi dan mengubah mikrohabitat di perairan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi tumbuhan air dan tumbuhan riparian di Danau Sentani serta untuk mengetahui status perairan dan karakteristik mintakat riparian Danau Sentani. Penelitian ini dilakukan pada bulan September–Oktober 2014. Pengambilan sampel tumbuhan air dan tumbuhan riparian dilakukan di 5 stasiun: St.1 (Doyo Lama) St.2 (Donday) St.3 (Deyau) St.4 (Kalkotte) dan St. 5 (Jaifuri). Data tumbuhan air diambil menggunakan square plot (1 x 1 m2) sebanyak 15 plot sedangkan data tumbuhan riparian menggunakan metode survei dengan tali transek sepanjang 10 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 10 spesies tumbuhan air dari delapan famili dan 30 spesies tumbuhan riparian dari 18 famili. Berdasarkan tumbuhan air yang ditemukan Danau Sentani termasuk ke dalam kategori eutrofik dengan spesies tumbuhan air yang dominan adalah ganggeng (Ceratophyllum demersum L.; 135 individu). Stasiun 4 (Kalkotte) memiliki jumlah individu tumbuhan air paling banyak (96 individu). Spesies tumbuhan riparian yang paling dominan adalah ilalang (Imperata cylindrica (L.) Beauv.; 190 individu). Hal ini berkaitan dengan wilayah pantai Danau Sentani yang sebagian besar merupakan tanah berpasir. Stasiun 5 (Jaifuri) memiliki jumlah spesies dan jumlah individu tumbuhan riparian terbanyak (344 individu dari 20 spesies). Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol. 2 No. 2. Hal. 33-48 ISSN 0125-9830Earth and Environmental Sciences
Kondisi Gonad Ikan Pelangi Merah Glossolepis Incisus di Danau Sentani Papuahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/LKAEKGHaryani Gadis Sri Nasution Syahroma HusniProsiding Dataverse2018-09-13T17:06:18ZdigitalIkan pelangi merah Glossolepis incisus adalah ikan hias berwarna kuning kemerahan yang merupakan ikan asli yang hidup di Danau Sentani. Penelitian kondisi gonad ikan pelangi merah telah dilakukan pada bulan April 2014. Tujuan penelitian ini mengkaji perkembangan gonad ikan pelangi merah jantan dan betina secara histologi untuk memperoleh informasi yang rinci mengenai perkembangan sel-sel gonad sebagai salah satu aspek reproduksi ikan pelangi merah. Sampel ikan pelangi ikan diambil dengan menggunakan jaring insang eksperimen berukuran mata jaring ¾ 1 1½ 2 dan 3 inci selama 2-3 jam. Ikan ditimbang berat dan diukur panjang tubuh kemudian gonad diambil dan difiksasi dengan larutan bouin alcohol. Selanjutnya dibuat preparat histologi dengan pewarnaan Hematoxylin dan Eosin. Dari hasil penelitian pada ikan pelangi merah jantan dan betina berada pada TKG II-IV. Kondisi gonad baik jantan (ukuran panjang tubuh 7 0-10 5 cm; berat tubuh 3 0-10 5 gr) maupun betina (panjang tubuh 6 9-10 3 cm; berat tubuh 3 1-9 4 gr) berisi sel-sel oosit dan sperma dengan perkembangan I-IV. Gonado Somato Index (GSI) ikan jantan berkisar antara 0 19-0 59 terdiri dari kluster-kluster berisi sel spermatogonia spermatosit spermatid dan sperma. GSI ikan betina 0 33-2 68 dengan diameter telur berkisar antara 7 0-8 0 μm untuk oosit TKG IV; 3 0-6 9 μm TKG III; 2 0-2 5 μm TKG II; 0 5-2 0 μm oogonia TKG I. GSI ikan jantan lebih kecil dibandingkan ikan betina. Berdasarkan komposisi sel telur dan sperma yang tidak homogen dalam gonad jantan dan betina memperlihatkan bahwa sel-sel tersebut berada pada tahap perkembangan yang beragam. Ikan pelangi merah termasuk ikan yang berpijah secara parsial dan mulai matang gonad pada ukuran panjang tubuh 7 cm. Prosiding Seminar Nasional Limnologi VII-2014. Hal. 56-67 ISBN 978-979-8163-20-3Earth and Environmental Sciences
A New Species Of Rainbowfish (Melanotaeniidae) Melanotaenia Garylangei From Western New Guinea (Papua Province Indonesia)https://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/NZSPE3Graf Johannes A. Herder Fabian Hadiaty Renny K.Artikel Jurnal Dataverse2018-05-22T19:16:59ZdigitalA new species of rainbowfish Melanotaenia garylangei is described on the basis of 15 specimens 42–78 mm SL from Brazza River (Eilanden River system) at Dekai village in the central southern part of Papua Province Indonesia. The new species belongs to the “Maccullochi” group a clade inhabiting southern New Guinea and parts of northern Australia. It is most similar to M. ogilbyi from the adjacent Unir river drainage a species that shares most meristic and morphometric features and parts of the colour pattern. Melanotaenia garylangei is however clearly distinguished by having more rays in the second dorsal fin and by conspicuous iridescent blue coloration of adult males along the upper lateral body between the head and first dorsal fin. This brings the number of described species in the “Maccullochi” group to seven. Angfa Fishes of Sahul 29(2): 870-881Medicine Health and Life Sciences
Studi Kebijakan Pertahanan: Problematika Pengelolaan Keamanan dan Pertahanan di Wilayah Konflik (Aceh dan Papua)https://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/55A203Tyas Hargyaning Samego Indria Nurhasim Moch. Yanuarti Sri Siregar Sarah NurainiBuku Dataverse2019-09-27T17:35:03ZdigitalPenelitian Studi Kebijakan Pertahanan: Problematika Pengelolaan Keamanan dan Pertahanan di Wilayah Konflik (Aceh dan Papua) salah satu dari sepuluh penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P LIPI). Kegiatan ini tergabung dalam DIPA Tahun Anggaran 2007. Penelitian ini dilaksanakan dengan personalia sebagai berikut: Dra. Hargyaning Tyas (Koordinator) Prof. Dr lndria Samego (Anggota) Dra. Sri Yanuarti (Anggota) Moch. Nurhasim S.IP M.Si (Anggota) Sarah Nuraini Siregar S.IP M.Si (Anggota) Sebelum menjadi naskah akhir laporan penelitian ini telah dibahas dalam Seminar Akhir Hasil iPtieanne P2P LIPI di Jakarta yang mengundang Pembahas dari luar P2P baik dari LIPI maupun non LIPI. Semua kegiatan yang berkaitan dengan penyusunan laporan penelitian ini tidak dapat berjalan tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak. Berkenaan dengan itu kami mengucapkan terima kasih terutama kepada lembaga pemerintah dan non-pemerintah yang telah membantu kelancaran proses penelitian ini. Kami juga menyampaikan penghargaan kepada para peneliti dan staf administrasi P2P LIPI serta para peneliti dari luar P2P LIPI yang terlibat dalam kegiatan penelitian ini. Buku ini terdiri dari: Bab I: Pendahuluan Oleh Tim Peneliti Bab II: Kebijakan Pengelolaan Pertahanan dan Keamanan Nasional Di Era Reformasi Oleh Indria Samego Bab III: Pengelolaan Keamanan dan Pertahanan Di Aceh Oleh Sri Yanauarti Bab IV: Pengelolaan Keamanan dan Pertahanan di papua Oleh Moch. Nurhasim Bab V: Dampak Pengelolaan Keamanan dan Pertahanan Di Wilayah Aceh dan Papua Oleh Sarah Nuraini Siregar dan Hargyaning Tyas Bab VI: Kesimpulan dan Rekomendasi Oleh Tim PenelitiSocial Sciences
Eight new species of Rainbowfishes (Melanotaeniidae) from the Birds Head Region West Papua Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/HYZDADNugraha Media Fitri Isma Kadarusman Hubert Nicolas Avarre Jean-Christophe Hadiaty Renny Kurnia Slembrouck Jacques Carman Odang Sudarto Ogistira Ran Pouyaud LaurentArtikel Jurnal Dataverse2021-03-06T07:10:37ZdigitalEight new species of Rainbowfishes are described from the Birds Head region by combining a cytochrome oxydase I gene (COI) phylogeny 12 microsatellite loci and diagnostic morphological characters. The new species Melanotaenia klasioensis M. longispina and M. susii belong to the “Central Ayamaru Plateau” cluster in the COI phylogeny and are genetically allied to M. ajamaruensis M. boesemani M. ericrobertsi and M. fasinensis. A Factorial Component Analysis made on the multilocus microsatellite genotypes reveals that these new species are genetically distinct from each other and from other species known from the area. With the same approach we also describe M. manibuii a species belonging to the “Northern Birds Head” mitochondrial clade and M. sembrae a species genetically close to M. multiradiata. Three additional new species M. naramasae M. rumberponensis and M. sikuensis belong to the “Birds Neck” cluster and are genetically allied to M. angfa and M. parva. The microsatellite markers were also used to distinguish M. angfa from M. parva two species sharing the same mitochondrial haplotype. For the sake of comparison the equivalent morphometric data are provided in appendix for the 20 valid species already described from the Birds Head area.Medicine Health and Life Sciences
Melanotaenia Flavipinnis A New Species Of Rainbowfish (Melanotaenidae) From Misool Island West Papua Province Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/7JJNU4Hadiaty Renny KurniaArtikel Jurnal Dataverse2018-05-29T17:23:19ZdigitalA new species of melanotaeniid rainbowfish Melanotaenia flavipinnis is described from Misool Island in the Birds Head region of western New Guinea (West Papua Province Indonesia). The new taxon is described from 20 specimens 38.5-77.2 mm SL collected from two creeks on southeastern Misool. It is the second rainbowfish known from this island which lies about 67 km south of the New Guinea mainland. It is distinguished from congeners and especially from M. misoolensis by a combination of features that include a distinctive colour pattern with yellow dorsal anal and pelvic fins usually 18-19 rakers on the first gill arch 11-16 cheek scales 12-13 circumpeduncular scales first dorsal fin situated well behind anal fin origin presence of both vomerine and palatine teeth conspicuously rounded anal fin with relatively elongate rays on the anterior half and relatively slender body in both sexes (greatest depth usually less than 35 persen SL). Aqua International Journal of Ichthyology Vol. 20 No. 1. 2014. P: 35-52.Medicine Health and Life Sciences
Oxyeleotris colasi (Teleostei: Eleotridae) a New Blind Cave Fish from Lengguru in West Papua Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/XAMOOOPouyaud Laurent Kadarusman Hadiaty Renny K. Slembrouck Jacques Lemauk Napoleon Kusumah Ruby V. Keith PhilippeArtikel Jurnal Dataverse2018-12-01T16:14:29ZdigitalOxyeleotris colasi is the first hypogean fish recorded from West Papua. The habitat consists of a freshwater pool in the cave of Jabuenggara located in the heart of Seraran anticline in the limestone karst of Lengguru. The new species is most closely related to the blind cave fish O. caeca described by Allen (1996) from eastern New Guinea. The two troglomorphic species are hypothesised to be related to O. fimbriata an epigean freshwater gudgeon that ranges widely in New Guinea and northern Australia (Allen 1996). Oxyeleotris colasi differs from its congeners by the absence of eyes its skin and fins being totally depigmented the presence of a well developed sensory papillae system partly consisting of low raised fleshy ridges on each side of the head a reduced number of cephalic sensory pores a reduced number of scales on head and body a long head with a short snout length a narrow mouth width and a long upper jaw length body shape with a shallow anterior body depth and narrow body width a long and deep caudal peduncle long predorsal and prepectoral lengths and a long pectoral fin. Cybium Vol. 36 No. 4. Hal. 521-529Earth and Environmental Sciences
Tinjauan Pemanfaatan Ranggah Rusa dan Karapas Kura-kura Air Tawar Di Propinsi Papuahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/AH2HJUSemiadi Gono Sidik IrvanArtikel Jurnal Dataverse2018-06-21T01:16:42ZdigitalDi Papua Rusa Jawa (Rusa timorensis) dan kura kura air tawar merupakan kelompok satwa liar yang menjadi buruan untuk tujuan pemenuhan konsumsi. Dari perburuan ini menghasilkan limbah berupa ranggah keras rusa dan karapas dari tempurung kura-kura yang mempunyai nilai ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami tingkat produksi yang ada dari ke dua limbah tersebut serta memahami alur pengumpulan dan perdagangannya pada tingkat lokal. Kajian dilakukan di Kabupaten Merauke dan sekitarnya dengan mengunjungi para pengumpul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil buruan kura-kura air tawar langsung dimasak di lokasi perburuan hanya sedikit yang dibawa pulang untuk dijual. Namun rusa dibawa pulang dagingnya untuk dijual dan hanya sedikit yang dimanfaatkan sendiri. Secara umum 62% dari contoh ranggah keras yang diamati merupakan ranggah keras dalam kondisi belum luruh dan 88% merupakan ranggah keras dari pejantan di atas pertumbuhan ranggah kedua kalinya atau lebih. Dalam setahun setidaknya diperoleh 1.600−3.700 pasang ranggah keras atau setara dengan 2 8−6 6 ton produk limbah. Jenis kura kura darat yang teridentifikasi sebagai hasil buruan adalah Macrochelodina parkeri Chelodina reimanni Macrochelodina rugosa Elseya braderhorsti dan Emydura subglobosa yang kesemuanya tidak masuk dalam daftar Appendix CITES atau satwa lindungan Indonesia. Biota Vol. 15 (1): 149−157 Februari 2010Medicine Health and Life Sciences
Studi kasus taksonomi Citrus hystrix DC. koleksi Kebun Raya Bogorhttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/7Z2H4CAstuti Inggit PujiArtikel Jurnal Dataverse2018-02-16T06:11:59ZdigitalLeechlime or Citrus hystrix DC have been known by public was plant with specific fruit morphological character especially with the fruit rind irregularly. In the Bogor Botanic Gardens has recorded six collection plants of leechlime which were original habitat from Central of Java Central of Celebes and Lesser Sunda Island (East Sumba) also Papua. As a research material these sixth collection plants have been observed the habitus leaves shape the shape ans size of the spine also the shape of flowers and fruit (if exist). All of the morphological characters which have observed then recorded were usage for analysis of the character difference. Based on the leaves morphology character observation of these sixth plants collection can be into one group although after the leechlime collection from Central Java have produced flowers and fruits this fruits character is very different with the common leechlime fruit which were known by the community. The shape and size of leechlime fower from Central Java is similair with flowers of common leechlime but the differences is the shape of leechlime fruit oblong and the rind of the fruit glabrous the fruit zise littler. Likewise the leechlime fruit from Papua the flower size is bigger. The flowers size as like as Citrus maxima (Burm.) Merr flower's with the fruit rind smooth. Were the taxonomy status of both leechlime collection plants from Central Java and Papua in the same taxa or as different taxa with common leechlime. The invention of the morphological character proof an this leechlime collection plants as an indicate a primary to study of the existence genetic variation of leechlime. Astuti Inggit Puji lihat Munawaroh Esti 2011 (106) Berkala Penelitian Hayati. Edisi Khusus: 7A hal. 87-89Medicine Health and Life Sciences
Seasonal Mechanisms of Nutrient Input and Its Potential Impacts on Productivity and Pollution in Arafura Sea: a Reviewhttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/6HUMPASalamena Gerry G. Syahailatua Augy Arifin ZainalProsiding Dataverse2018-08-15T16:37:44ZdigitalTwo different mechanisms of nutrient inputs seasonally in Arafura Sea were reviewed in order to understand the outcomes of these mechanisms on the primary production in supporting fishery industries and marine pollution. The mechanism of nutrient inputs in Arafura Sea during the southeast monsoonal winds were based on undercurrent circulation newly reported by Kämpf’s very recent studies. We pointed out that the modelling findings of the studies demanded a further validation of the bulk of nutrient in Arafura Sea observationally (i.e. direct measurements) particularly at the northwestern Arafura Sea where the undercurrent circulation was evident. Additionally it was important to measure the degree of the vertical nutrient flux as a result of the Ekman pumping in the eastern Banda Sea which was not considered by the recent studies to understand how much the upwelled water induced by Ekman pumping in the eastern Banda transported to Arafura Sea basin via the undercurrent mechanism. For the nutrient input mechanism in Arafura Sea during the northwest monsoon season we calculated the rate of the exchange process between the southwest Papua coastal waters and Arafura Sea (26 km3/day) leading to the extent of the freshwater river plume of 73 km to the Arafura Sea. This freshwater plume extent was comparable with the width of the Chl-a concentration towards the SW Papua coastal waters (~ 45 km) indicating the dependence of phytoplankton communities at the coastal waters on the seaward freshwater flow. In addition it was thought to be possible that the exchange process between the SW Papua coastal waters and Arafura Sea potentially brought negative buoyant plume-like sediment at the subsurface water column of the coastal waters beside the surface freshwater plume. Pertemuan Ilmiah Nasional Tahunan XIII ISOI 2016. Hal. 507-517Earth and Environmental Sciences
Seasonal Mechanisms of Nutrient Input and Its Potential Impacts on Productivity and Pollution in Arafura Sea: a Reviewhttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/GHNJ9HArifin Zainal Syahailatua Augy Salamena Gerry Giliant Prosiding Dataverse2018-04-17T20:34:20ZdigitalTwo different mechanisms of nutrient inputs in Arafura Sea seasonally were reviewed in order to understand the outcomes of these mechanisms on the primary production in supporting fishery industries and also marine pollution. The mechanism of nutrient inputs in Arafura Sea during the southeast monsoonal winds were based on undercurrent circulation newly reported by Kämpf’s very recent studies. We pointed out that the modelling findings of the studies demanded the further validation of the bulk of nutrient in Arafura Sea observationally (i.e. direct measurements) particularly at the northwestern Arafura Sea where the undercurrent circulation was evident. Additionally it was important to measure the degree of the vertical nutrient flux as a result of the Ekman pumping in the eastern Banda Sea which was not considered by the recent studies to understand how much the upwelled water induced by Ekman pumping in the eastern Banda was transported to Arafura Sea basin via the undercurrent mechanism. For the nutrient input mechanism in Arafura Sea in the northwest monsoon season we calculated the rate of the exchange process between the southwest Papua coastal waters and Arafura Sea (26 km3/day) leading to the extent of the freshwater river plume of 73 km to the Arafura Sea. This freshwater plume extent was comparable with the width of the Chl-a concentration towards the SW Papua coastal waters (~ 45 km) indicating the dependence of phytoplankton communities at the coastal waters on the seaward freshwater flow. In addition it is thought to be possible that the exchange process between the SW Papua coastal waters and Arafura Sea potentially brought negative buoyant plume-like sediment at the subsurface water column of the coastal waters beside the surface freshwater plume. Prosiding Pertemuan ISOI XIV tahun 2016. Hlm: 507-517Earth and Environmental Sciences
Two New Species of Dorcopsistrongylus (Strongylida: Strongyloidea) From Dorcopsis muelleri (Marsupialia: Macropodidae) From Papua Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/FRUUCVPurwaningsih Endang Smales Lesley R.Artikel Jurnal Dataverse2018-06-06T17:41:43ZdigitalIn a survey of the brown dorcopsis Dorcopsis muelleri on Salawati Island Papua Indonesia 2 new species were found in the stomach. Dorcopsistrongylus ewini n. sp. can be differentiated from its congeners in having the proximal end of the spicule twisted and from Dorcopsistrongylus labiacarinatus in having shorter intestinal diverticula and in the proportions of the elements of the ovejector. Dorcopsistrongylus salawatiensis n. sp. can be differentiated from its congeners in having bilobed lateral lip-like elements and an elongated terminal bulb of the esophagus. A survey of other Dorcopsis and Dorcopsulus spp. may reveal more species of Dorcopsistrongylus. Journal of Parasitology 96(3):596-601 · June 2010Medicine Health and Life Sciences
Hutan Mangrove di Yenanas Pulau Batanta Kabupaten Raja Ampat Propinsi Papua Barathttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/AOBF7PSuhardjonoArtikel Jurnal Dataverse2021-03-08T01:36:09ZdigitalA reseach on mangrove vegetation has been conducted in Yenanas Batanta Island Raja Ampat Distric PapuaBarat Province. The results showed that the diversity of mangrove in Kalitoko was relatively high. About 78 speciesof mangrove (61 genera and 42 families) has been recorded among them 27 species were classified as rare speciesbased on IUCN list with status VU and CR. The result of vegetation analysis analysis of six transect which cover8 200 m2 of mangrove forest in this location recorded 10 species of mangrove plants with level density was 834-1 244 individual/ha and its basal area was 35.38-123.53 m2/ha. For the sapling the density was 440-1 714 individual/ha and its basal area 1.48-4.93 m2/ha. While the seedling density up to 86 364-222 500 individual/ha. Jurnal Biologi Indonesia Vol. 10 No. 1. Januari 2014. P: 129-138Medicine Health and Life Sciences
Two New Species Of Freshwater Gudgeons (Eleotridae: Morgurnda) From The Arguni Bay Region Of West Papua Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/OC81BGHadiaty Renny KurniaArtikel Jurnal Dataverse2018-05-27T18:11:01ZdigitalTwo new species of Mogurnda are described from the Ar- guni Bay region of West Papua Indonesia. Mogurnda argu- ni new species is described from 80 specimens 17.5-92.1 mm SL collected from a small tributary of the Togarni Riv- er in the northeastern reaches of the Arguni Bay drainage. It is most similar to M. magna from the Triton Lakes (lying about 80 km southeast) and M. mbuta from the Etna Bay region (about 120 km southeast). The main differences con- sist of a smaller head longer pelvic fins longer caudal fin fewer predorsal scales and a much smaller size in M. arguni in comparison with M. magna. Most of these differences are also shared with M. mbuta which exhibits pronounced modal differences in number of pectoral-fin rays (78 persen with 16 rays vs. 48 persen in M. arguni) and slightly higher number of rakers on the lower limb of the first gill arch. Mogurnda kaimana new species is described from 38 specimens 11.5- 110.2 mm SL collected from Lake Furnusu a small moun- tain lake 15 km northeast of Kaimana. It is most similar to M. pardalis from the Triton Lakes but differs in lateral and predorsal scale counts body depth head length interorbital width pelvic-fin length and caudal-peduncle length. In ad- dition preserved specimens of M. kaimana are uniformly dark compared to the lighter mottled pattern of M. pardalis. Aqua Vol. 20 No. 2. 2014. P: 97-110Medicine Health and Life Sciences
Nasionalisme Demokratisasi dan Sentimen Primordial di Indonesia: Problematika Etnisitas versus Keindonesiaan (Studi Kasus Aceh Papua Riau dan Bali)https://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/530XXUNoor Firman Pabottingi Mochtar Gayatri Irine H. Widjojo Muridan S. Rozi SyafuanBuku Dataverse2018-02-16T06:41:15ZdigitalSepanjang sepuluh tahun Era Upaya Reformasi kita menyaksikan dua tarikan ke arah partikularisasi yang cenderung menciutkan dan menafikan keindonesiaan. Tarikan pertama ini bagi Indonesia paling riskan timbulnya kehendak sebagian masyarakat di daerah tertentu untuk memisahkan diri. Tarikan kedua berkiprah dalam rangkaian diktasi kebijakan otonomi daerah. Kiprah otonomi daerah di tahun-tahun pertama secara nyata cenderung bergerak ke arah reduksi sejauh-jauhnya dari keindonesiaan. Semboyan 'putra daerah' dicanangkan dimana-mana termasuk atau terutama di Aceh Riau Bali dan Papua. Namun dernikian di balik semboyan tersebut masih ada semboyan yang merujuk pada kolektivitas politik yang jauh lebih kecil lagi yaitu 'putra kampung' atau 'putra suku' dalam konteks lokal di Papua Ace h dan Riau. Selanjutnya ada yang lain semangat 'Jagaditha' yang muncut di Bali sebaliknya merujuk pada satu kolektivitas lintas negara serta lintas politik. Hal itu tumbuh sebagai bagian yang tidak ingin menafikan perlunya rasionalitas politik itu sendiri. Tiap kolektivitas politik rnemiliki lingkup wilayah penduduk dan agenda yang terbatas. Jika suatu kolektivitas politik tidak menentukan batas tersebut ia mustahil menjadi suatu kerja besar yang bisa dipertanggung jawabkan. Padahal esensi politik pada hakekatnya adalah pertanggung jawaban baik bagi tiap individu maupun bagi tiap kelompok warganya. Dalam hitungan rasionalitas politik ini tentu saja merupakan kemunduran yang lumayan parah. Dengan nalar biasa saja kita sudah tahu bahwa makin kecil lingkup kolektivitas politik dipatok maka makin kerdil pula dasar pembenaran dari adanya. Makin kecil atau terbatas pula 'lingkup kerja berarti' yang bisa dilaksanakannya. Buku ini terdiri dari: Bab I: Pendahuluan Bab II: Tarik Ulur Keindonesiaan dan Keacehan Bab III: Etnonasionalisme Papua Dalam Era Demokratisasi Bab IV: Riau Kolonialisme Internal dan Upaya Berdaulat: Refleksi Sentimen Keriauan dalam Gerakan Riau ""Merdeka"" Bab V: Membentang Identitas Kebalian di Era Indonesia Kontemporer Bab VI: Penutup: Nasionalisme Demokratisasi dan EtnisitasSocial Sciences
Optimizing Marginal Imperata Grasslands In Papua by Developing Agroforestry Systems Aassociating Jatropha Curcas with Food Cropshttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/AA6YSMCahyaningsih Ria Moenne Morgane Prosiding Dataverse2018-03-07T13:51:37ZdigitalSarcotheca macrophylla Blume or “Pengo” (Kalimantan/Dayak Kenyah) belongs to the family Oxalidaceae. The plant also known as Borneo endemic plant species. The study in distribution has been made based on the herbarium specimen observation at Herbarium Bogoriense and several expeditions in Kalimantan which include West East Central and South provinces of Kalimantan. The potential uses of this species have been studied through survey of literature and interview with the local people in Kalimantan during the expedition. This plant occurred in West Central and East of Kalimantanin a minor population and scattered in secondary forest especially along the riverside. The fruit is edible with sour taste indicated the high content of vitamin C and eaten by primate such as orang utan monkey and other mammals. The fruit also used as natural shampoo by locals. The root was reported as one of material that can be used in the practice of contraception. Morphological description and potential uses of this species are presented in this paper. Proceeding The 12th Sciences Council of Asia (SCA) Conference and International Symposium. IPB International Convention Center-Bogor. Hal. 305-314Medicine Health and Life Sciences
Redescription of Land Snail Leptopoma (Leucoptychia) Lamellatum Sykes 1903 from Raja Ampat West Papua (Mollusca Gastropoda Cyclophoridae)https://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/SOJB7RIsnaningsih Nur Rohmatin Marwoto Ristiyanti M.Artikel Jurnal Dataverse2018-09-30T15:05:33ZdigitalThe land snail Leptopoma (Leucoptychia) lamellatum Sykes 1903 was reported from the Raja Ampat Islands West Papua. The type locality of this snail is Waigeo Island but it also occurs on Salawati island. Based on specimens collected in 2007 and 2008 from Waigeo Salawati and Batanta we present a re-description of the shell including new information on body coloration radular morphology and habitat. The known range of the species is extended to include Batanta Island. Treubia Vol. 37. Hal. 83-92 ISSN 0082-6340Earth and Environmental Sciences
Kumis Kucing (Orthosiphon Spp.; Lamiaceae) Di Indonesia Dan Indikasi Jenis Baru Dari Pulau Waigeo Papua Barathttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/AXTUPMSudarmono Fijridiyanto Izu AProsiding Dataverse2018-02-16T06:23:37ZdigitalCat whisker’s (Orthisiphon spp.; Lamiaceae) within Indonesia distributed in Sumatra Java Bali Lesser Sunda Borneo Celebes Mollucas and Papua. This species known only two species i.e. O. aristatus and O. thymiflorus. Highly variation morphologically such as leaf calyx corolla stamen and style. Orthisiphon sp. taken from Waigeo Island has different than both O. aristatus and O. thymiflorus. The flower features of this species are variable visually. Notes of Herbarium Bogoriense collection data base where is never found it in Waigeo Island except Misima Island and Jappen Biak regency that there are O. aristatus and O. sp. in Kaliki New South Guinea. Prosiding Konservasi Flora Indonesia dalam Mengatasi Dampak Pemanasan Global. Bali 14 Juli 2009. Kebun Raya Eka Karya Bali. hal. 303-306Medicine Health and Life Sciences
Analisis fekunditas dan diameter telur kerang darah (Anadara antiquata) di perairan Pulau Auki Kepulauan Padaido Biak Papuahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/EFRK24Widyastuti AndrianiArtikel Jurnal Dataverse2021-03-06T05:09:44ZdigitalTujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis fekunditas dan diameter telur kerang darah (A. antiquata) yang hidup pada substrat lumpur berpasir dan pada padang lamun di perairan Pulau Auki Kepulauan Padaido Biak Papua. Penelitian dilakukan selama 10 bulan (Juni 2009 - Maret 2010). Sampel dikumpulkan setiap bulan pada masing-masing habitat diukur panjang cangkang dan bobotnya. Penentuan jenis kelamin berdasarkan pewarnaan gonad. Fekunditas dihitung dengan menggunakan metode volumetri dengan bantuan Sedwigck rafter counting cell (SRC cell). Nisbah kelamin pada substrat pasir adalah 1 00 : 1 92 dan di habitat lamun 1 00:1 67. Fekunditas di habitat pasir berkisar antara 100.068 – 4.288.312 butir pada panjang cangkang 51 70-70 80 mm dan di habitat lamun berkisar antara 134.025-3.125.500 butir pada panjang cangkang 41 20-66 80 mm. Diameter telur di habitat pasir berkisar antara 20-64 µm dan di habitat lamun10-64 µm. Kata kunci : kerang darah Anadara antiquata fekunditas diameter telur.Medicine Health and Life Sciences
Micromilum minutum Wight & Arn. : Distribusi dan Status Konservasinya di Indonesia. https://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/TMDEHDAstuti Inggit Puji SutrisnoProsiding Dataverse2018-02-16T06:25:33ZdigitalMicromilum adalah salah satu marga yang tergolong dalam suku Rutaceae (Jeruk-jerukan). Marga ini beranggotakan 9 jenis tersebar mulai dari Sri Lanka India IndoChina Semenanjung Malaysia Kalimantan Pilipina Papua New Guinea Australia bagian Timur Iaut dan Pasifik. Di kawasan Malesia tercatat tidak lebih dari 6 jenis Micromilum. Di Indonesia pemah dilaporkan ada 4 jenis yaitu M. minutum M. pubescens M. diversifolium dan M. integerimum. Namun hasil penelitian terakhir menyebutkan bahwa di Indonesia hanya ada 2 jenis Micromilum yaitu M. diversifolium dan M. minutum. Kedua jenis ini masing - masing mempunyai beberapa varietas. Daerah persebaran M.minutum adalah di Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi Maluku Nusa Tenggara dan Papua; sedangkan M. diversifoliumdaerah persebarannya meliputi P. Halmahera P.Sula (Maluku) dan P.Biak (Papua). Data yang tercatat di Sub Bidang Registrasi Koleksi mencatat bahwa marga Micromelum khususnya jenis M. pubescens sudah dikoleksi sejak tahun 1916 dengan asal koleksi dari Jawa. Sebagian ahli botani menyatakan bahwa M. pubescens ini adalah sinonim dari M. minutum. Potensi M. minutum di Indonesia belum banyak diketahui laporan dari sumatera menginformasikan bahwa daun dari M. minutum dapat digunakan sebagai obat. Di Malaysia tanaman ini digunakan sebagai tanaman obat (akar dan daunnya) dan bahan baku bangunan (kayunya). Status konservasi M. minutum sampai saat ini belum dievaluasi informasi yang ada baru menyebutkan daerah persebaran yang berasal dari data spesimen herbarium dan specimen hidup di Kebun Raya Bogor dan Kebun Raya Purwodadi sehingga jenis ini menjadi sangat penting untuk diteliti lebih lanjut baik secara ekologi maupun pengembangan potensinya. Proceedings of 6th Basic Science National Seminar Departement of Physics Faculty of Sciences Brawijaya University Indonesia February 21st 2009. hal. I 26-30Medicine Health and Life Sciences
Perkembangan Gonad Kerang Darah (Anadara antiquata) Di Perairan Pulau Auki Kepulauan Padadido Biak Papuahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/5TBJUSWidyastuti AndrianiArtikel Jurnal Dataverse2018-04-25T20:30:38ZdigitalAnadara sp adalah salah satu jenis bivalvia laut yang bernilai ekonomis penting dan jenisnya tersebar hampir di seluruh perairan pantai mulai dari Pasifik Barat Fiji Afrika Turki Florida Georgia Malaysia Thailand Jepang dan Korea. Penelitian perkembangan gonad kerang dilakukan setiap bulan selama 10 bulan (Juni 2009-Maret 2010). Tujuannya adalah untuk mengetahui perkembangan gonad kerang darah. Sampel diambil setiap bulan diukur panjang tinggi dan lebarnya. Penentuan jenis kelamin dilakukan dengan melihat pewarnaan gonad dan ditentukan tingkat perkembangan gonadnya secara morfologi dan secara histologi. Nisbah kelamin 1 00:1 67 dan hasil uji chi-square tidak berbeda nyata (p<0 05). Hasil pengamatan terhadap gonad kerang darah (A. antiquata) secara morfologi maupun histologi menunjukkan lima tahap perkembangan yaitu TKG I (resting phase/fase istitahat) TKG II (developing phase/fase perkembangan) TKG III (maturing phase/fase pematangan) TKG IV (partially spent/salin sebagian) dan TKG V (full spent/salin sempurna). Pemijahan terjadi sepanjang tahun dengan puncak pemijahan terjadi pada bulan September dan Oktober 2009. Suhu air berkisar 29.5-31oC salinitas berkisar 30-32o/oo selama penelitian. Sebagai kesimpulan perkembangan gonad kerang darah (A. antiquata) di perairan Pulau Auki Kepulauan Padaido dapat dibagi menjadi lima tahap (resting developing maturing partially spent & full spent phase). Oseanologi dan Limnologi di Indonesia 37 (1) 2011Medicine Health and Life Sciences
Jenis-Jenis Vegetasi Unik dan Perlu Dilindungi di Pulau Waigeo Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barathttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/AAHXFDSudarmonoProsiding Dataverse2018-02-28T17:14:00ZdigitalPulau Waigeo merupakan salah satu pulau besar di Raja Ampat Provinsi Papua Barat yang kaya akan tumbuhan endemik tumbuhan dataran rendah tanah kapur (karst). Tujuan penelitian ini untuk menginventarisasi jenis-jenis tumbuhan yang unik dan endemik sehingga perlu dilindungi. Lokasi penelitian meliputi kawasan hutan primer di sepanjang Sungai Warambiae Hutan adat Distrik Teluk Mayalibit kawasan Gunung Nok kawasan Cagar Alam Pulau Waigeo Timur dan CA P. Waigeo Barat. Vegetasi di Pulau Waigeo sangat tinggi keanekaragamannya dikarenakan tingginya jenis-jenis tumbuhan endemik seperti: Pule Waigeo (Alstonia beatricis) Guioa waigeonensis Calophyllum parvifolium Nepenthes dan seri Scefflera apiculata Hernandia origera sapu tangan (Maniltoa rosea) dll. Jenis-jenis anggrek palma dan keluarga keladi termasuk juga yang tinggi keanekaragamannya. Kawasan hutan yang masih begitu luas terutama hutan primer yang ada di wilayah sepanjang aliran Sungai Warambiae dari hulunya di Gunung Danai hingga bermuara di Teluk Mayalibit perlu dilindungi karena wilayahnya belum masuk dalam wilayah cagar alam. Prosiding Simposium Nasional Pengelolaan Pesisir Laut dan Pulau-Pulau Kecil “Kontribusi IPTEK dalam pengelolaan sumberdaya pesisir laut dan pulau-pulau kecil” Bogor 18 Nopember 2010. hal. 75-78Medicine Health and Life Sciences
Kebijakan Australia Terhadap Integritas Teritorial Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/XWFFYH Pudjiastuti Tri Nuke Elisabeth Adriana Anwar Dewi Fortuna Adil Hilman Bhakti Ikrar Nusa Sitohang JapantonBuku Dataverse2018-02-16T06:37:07ZdigitalPenelitian Kebijakan Australia terhadap Integritas Teritorial lndonesia merupakan bagian dari proyek tahunan yang dilakukan oleh para peneliti pada Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI khususnya yang tertarik pada studi Australia baik hubungan bilateralnya dengan lndonesia maupun dengan negara negara lain di kawasan Asia dan Pasifik. Penelitian kali ini difokuskan pada hubungan bilateral Indonesia dan Australia di bidang pertahanan yang meliputi kebijakan Australia terhadap lndonesia yang secara khusus dikaitkan dengan terjadinya konflik sosial dan politik di Aceh Maluku dan Papua. Sebagaimana layaknya negara bertetangga hampir setiap perkembangan dan gejolak yang terjadi di lndonesia dan Australia akan berpengaruh secara langsung pada kelanggengan hubungan bilateral kedua negara. Untuk itu pada bagian akhir laporan Ini dipaparkan mengenai pentingnya mengupayakan hubungan yang lebih baik dalam rangka mencapai kepentingan nasional masing masing maupun menciptakan kehidupan bertetangga yang lebih harmonis. Keberhasilan penulisan laporan penelitian ini tidak terlepas dari partisipasi dan dukungan informasi dari para narasumber di Ambon (Maluku) Jayapura (Papua Barat) dan Jakarta; serta bantuan administratif dan teknis yang diberikan oleh para pembantu peneliti. Untuk itu semua kami mengucapkan terima kasih. Akhir kata semoga laporan ini bermanfaat bagi para pembaca terutama para pemerhati Australia. Kami bersedia menerima saran dan kritik demi perbaikan laporan penelitian ini maupun penelitian yang akan datang. Buku ini terdiri dari: Bab 1: Pendahuluan Bab 2: Persepsi Politik Domestik lndonesia terhadap Australia Bab 3: Hubungan IndonesIa-Australia dalam Sejarah Diplomatik: Kasus Irian Barat Bab 4: Australia dan Masalah Kedaulatan Nasional Indonesia di Papua Bab 5: Peristiwa Ambon dan Integritas Teritorial lndonesia dalam Perspektif Australia Bab 6: Kebijakan Australia terhadap Wilayah Teritorial IndonesIa Bagian Barat: Persoalan Konflfk Aceh Bab 7: KebIjakan Australia terhadap Integritas Teritorial lndonesia: Antara Persepsi dan Realita dan Usulan PenyelesaiannyaSocial Sciences
A new record of the giant freshwater prawn Macrobrachium spinipes (Schenkel 1902) (Crustacea: Decapoda: Palaemonidae) from Taiwan with notes on its taxonomyhttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/KBUF6QShy J-Y. Wowor D. Ng P.K.L.Artikel Jurnal Dataverse2018-05-27T19:44:22ZdigitalThe giant freshwater prawn Macrobrachium spinipes (Schenkel 1902) is recorded from Taiwan for the first time and extends the distribution of the species to north of the Tropic of Cancer. The Taiwanese specimens differ slightly from material from Indonesian Papua in the density of the spination of the adult second pereipods the relative length of the ridge of the posterior submedian plate of thoracite sternite 4 and the color of the carapace abdomen and pleural condyles. Zootaxa 2013 3734: 45-55Medicine Health and Life Sciences
Kearifan Lokal Masyarakat Distrik Teluk Mayalipit Pulau Waigeo Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat Dalam Melestarikan Keanekaragaman Tumbuhanhttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/BE7DUQSudarmono SumantoProsiding Dataverse2018-02-16T06:50:15ZdigitalUntuk mendalami kearifan lokal pada masyarakat di Distrik Teluk Mayalipit Pulau Waigeo Kepulauan Raja Ampat Provinsi Papua Barat maka perlu adanya pemahaman tentang hutan adat untuk konservasi dan keanekaragaman jenis-jenis tumbuhan pada tanah kapur (karst). Tujuan penelitian ini untuk menginventarisasi jenis-jenis tumbuhan yang ada pada tanah kapur dan selanjutnya juga menganalisa budaya kearifan lokal masyarakatnya terhadap keanekaragaman hayati. Berbagai jenis anggrek dan Arecaceae (Palmae) mendominasi kawasan Sungai Warambiae dan Teluk Mayalipit. Budayasasi pada mahluk air juga diterapkan pada hutan adat di Bukit Warsambin seluas 25 hektar. Prosiding Seminar Nasional dalam rangka Dies Natalis ke-46 Universitas Negeri Yogyakarta Mei 2010. hal. 213-216Medicine Health and Life Sciences
New Species of Labiobulura (Nematoda: Ascaridida) Paralabiostrongylus and Dorcopsinema and (Nematoda: Strongylida) from Dorcopsis Muelleri (Macropodidae) from Lengguru West Papua Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/KDZJ0VPurwaningsih Endang Smales L.RArtikel Jurnal Dataverse2018-05-02T20:23:38ZdigitalNew species of the Subuluridae (Nematoda: Ascaridida)Labiobulura lengguruensis n. sp. is described from the caecumand colon and two new species of the Chabertiidae: Cloacininae(Nematoda: Strongylida) Paralabiostrongylus tuberis n. sp. andDorcopsinema amplum n. sp. are described from the stomachofthe macropodid marsupial Dorcopsis muelleri (Lesson 1827) (Mammalia: Macropodidae) in Papua Indonesia. Labiobulura lengguruensisdiffers from all congeners in having a simple denticleassociated with each labial lobe of the buccal capsule.Paralabiostrongylus tuberis can be distinguished from its congenersin by the position of the deirid and the form of the dorsal rayand genital cone. Dorcopsinema amplum can be distinguished from its congeners by the length of the spicule the morphologyof the appendages on the ventral lip of the genital cone theposition of the lateral branches of the dorsal ray the shape ofthe female tail the morphology of the vagina and the size of theeggs.The known nematode fauna of D. muelleri is summarised. Thefinding of three species of Dorcopsinema each in a different geographicallocality suggests the possibility of allopatric speciation. Arevised key to the species of Dorcopsinema is given. Transaction of the Royal Society of South Australian Museum. Vol. 142 No. 1. P: 56-69Medicine Health and Life Sciences
On the Genera Selwynia Borradaile 1903 and Gandoa Kammerer 2006 with Descriptions of Two New Species from Papua New Guinea and French Polynesia (Crustacea: Decapoda: Brachyura: Aphanodactylidae)https://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/JCZN6XNg Peter K. L. Rahayu Dwi ListyoArtikel Jurnal Dataverse2018-05-01T14:21:39ZdigitalThe taxonomy of the Indo-West Pacific aphanodactylid crabs Selwynia sibogae (Tesch 1918) and S. edmondsoni (Rath-bun 1932) is discussed on the basis of the types and both species are redescribed and figured. Two new species from Papua New Guinea and French Polynesia respectively are described and compared with congeners. All are symbionts in polychaete tubes. A key to the genus Selwynia is also provided. The poorly known genus Gandoa Kammerer 2006 is redescribed on the basis of the rediscovered the type species Voeltzkowia zanzibarensis Lenz 1905. The lectotype female of Pinnixa brevipes H. Milne Edwards 1853 is examined and shown to be a senior subjective synonym of G. zanzibarensis. Zootaxa Vol. 4092 No. 3. Hal. 339-370Earth and Environmental Sciences
Kondisi Terumbu Karang Lamun dan Mangrove di Suaka Alam Perairan Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barathttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/ZPCXG6Happy Supriyadi Indarto Capenberg Hendrik A. W. Souhoka Jemmy Makatipu Petrus Christianus Hafizt MuhamadArtikel Jurnal Dataverse2018-10-09T21:22:42ZdigitalSuaka Alam Perairan (SAP) Raja Ampat memiliki ekosistem karang dengan nilai keanekaragaman spesies dan biota asosiasinya seperti ikan coralivora herbivora karnivora dan megabentos yang relatif tinggi. Keterkaitan ekosistem karang dengan ekosistem lainnya (lamun dan mangrove) masih terjaga dengan baik dalam perairan yang dilindungi. Namun keberadaan tiga ekosistem di Raja Ampat juga rentan terhadap perubahan lingkungan alam dan tekanan manusia. Tulisan ini bertujuan untuk menyediakan data dan informasi tentang kondisi awal karang lamun dan mangrove yang dapat dijadikan referensi penilaian untuk ketiga ekosistem tersebut. Metode pengamatan kondisi karang padang lamun dan mangrove menggunakan pedoman standar COREMAP-CTI 2014. Berdasarkan analisis citra landsat dapat dihitung luas habitat perairan dangkal (karang pasir padang lamun dan mangrove) adalah 3.521 ha. Ditemukan 108 spesies keanekaragaman karang dan persentase karang hidup (32 24 persen) sehingga termasuk kategori “sedang”. Hanya enam spesies lamun ditemukan dan kondisinya ‘sehat’ atau ‘baik’. Ditemukan 15 spesies mangrove dua spesies diantaranya dominan yaitu Rhizophora apiculata dan Bruguiera gymnorhiza dengan kategori kondisi “baik”. Ekosistem karang lamun dan mangrove merupakan ekosistem yang saling mendukung dalam peran dan fungsinya terhadap keberadaan sumber daya perikanan. Oleh karena itu pemantauan secara berkala potensi ketiga ekosistem adalah penting dalam upaya menjaga keberlanjutan terhadap ketersediaan sumber daya perikanan. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol. 23 No. 4 Desember 2017 e-ISSN: 2502-6542Earth and Environmental Sciences
Kajian Awal Rute Paparan Logam Berat Timbal (Pb) Dan Tembaga (Cu) Pada Ikan Gabus Di Danau Sentani Provinsi Papuahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/D5ZEQUYoga Gunawan Pratama Nina Hermayani SadiProsiding Dataverse2021-03-08T01:31:00ZdigitalSedimentasi dan limpasan permukaan dari pembangunan infrastruktur dan saranatransportasi merupakan pintu bagi masuknya berbagai logam berat ke Danau Sentani Provinsi Papua. Hasil monitoring kualitas air yang dilakukan oleh Badan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua pada tahun 2013 menunjukkan bahwa pada beberapa lokasi kandungan logam berat timbal (Pb) dan tembaga (Cu) berada sedikit diatas ambang batas baku mutu air kelas I. Berdasarkan kondisi tersebut di atas penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi logam berat toksik dalam kolom air danau dengan akumulasi logam dalam biota akuatik. Informasi yang diperoleh dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan ilmiah bagi pengelolaan lingkungan danau. Penelitian dilaksanakan pada bulan April dan Oktober 2014 di Danau Sentani. Sampel air yang diambil meliputi sampel air permukaan dan dasar dari delapan lokasi. Sedangkan pengambilan sampel ikan Gabus sebagai ikan predator dilakukan dengan menggunakan jaring insang dengan berbagai ukuran mata jaring. Pengukuran kualitas air meliputi kondisi fisika-kimia air (pH suhu DO Konduktivitas Salinitas ORP) total padatan terlarut logam berat Cu dan Cd. Analisis kandungan logam berat Cu dan Pb dalam ikan hanya dilakukan pada bagian hati dan insang ikan Gabus yang tertangkap. Bobot ikan dan hati diamati untuk mengetahui nilai indeks hepato-somato. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan logam Pb dan Cu di bagian air dasar danau lebih besar dibandingkan dengan kandungan logam di permukaan. Akumulasi logam Cu terdeteksi di insang dan hati ikan Gabus. Sedangkan logam Pb tidak terdeteksi baik di insang maupun di hati ikan Gabus. Hal tersebut mengindikasikan bahwa rute pemaparan logam berat Cu pada ikan Gabus melalui jalur respirasi dan rantai makanan. Peningkatan konsentrasi Cu menyebabkan penurunan nilai hepato-somato indeks (R2= 0.678). Nilai tersebut mengindikasikan bahwa ikan tersebut sudah mengalami tekanan lingkungan. Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan Masyarakat Limnologi Indonesia 2015Earth and Environmental Sciences
Studi Cara Perbanyakan Buah Merah (Pandanus Conoideus Lamk) dan Upaya Konservasinya di Lembah Balim Kabupaten Jayawijaya Papuahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/L9BOJJWawo Albert Husein Agusta Andrea Setyowati NinikProsiding Dataverse2018-05-08T20:50:29ZdigitalBuah merah (Pandanus conoideus Lamk) adalah tanaman khas lembah balim dan masyakarakat balim telah mengenal kegunaannya secara turun temurun. lembah balim adalah habitat yang sesuai bagi pengembangan buah merah walaupun hingga saat ini pembudidayaan buah merah masih bersifat sporadis dalam luasan yang terbatas. konservasi buah merah telah dilakukan melalui penanaman buah merah sebagai tumbuhan koleksi dalam kebun raya biologi wamena LIPI sedangkan masyrakat membudidayakan di pekarangan rumah dan kebunnya. pembudidayaan dalam lahan luas belum dikembangkan karena keterbatasan pada penguasaan teknologi perbanyakan dan pengelola lahan. studi perbanyakn buah merah secara konvensional telah dilakukan dan diketahui bahwa buah merah dapat diperbnyak secara vegetatif dengen menggunakan stek batang dan anakan.biji buah merah yang telah di panen (buah telah berwarna merah) memiliki embrio yang belum utuh dalam pertumbuhannya dan tidak memiliki cadangan makanan (endosperm) walaupun buah merah memiliki keunggulan komparatif namun belum siap menghadapi era Mea (Masyakarat Ekonomi Asean). pengembangan Buah merah memiliki beberapa hambatan yaitu teknik pembudidayaan teknik pengolahan dan jaringan pemasaran. perlu ada insentif dan pendampingan dari pemerintah untuk pengembangan buah merah di masa mendatang.kata kunci: buah merah lembah Balim Konservasi KRBW cara perbanyakan MEA Prosiding Seminar Nasional Biologi (SEMABIO) Bandung 31 Mei 2016. Hal. 280-287Medicine Health and Life Sciences
A New Species Of Asplenium Section Thamnopteris (Aspleniaceae) From Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/MKRN4EMujahidin Dong S.Y. Wei L.L. Chao Y.S.Artikel Jurnal Dataverse2018-03-07T19:38:41ZdigitalA new species Asplenium riswanii (sect. Thamnopteris) is described from Central Java and West Papua Indonesia. It is distinct from any known species by having thick and rigid fronds abaxially keeled midribs broadly lanceolate scales and distantly spaced sori. Morphologically A. riswanii is not similar to any species from Malesiabut somew hat close to A. antrophyoides from mainland Southeast Asia. Molecular data reveal it has an isolated position in the phylogeny. The micromorphology of spores and leaf epidermis of A. riswanii is also documented and a key to the species of Asplenium sect. Thamnopteris from Malesia is given. Blume Vol. 57 page: 190-194Medicine Health and Life Sciences
Notes on Benstonea (Pandanaceae) from the islands of Halmahera New Guinea and Sulawesihttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/WV4HQFCallmander M. W. Buerki S. Keim A. P. Phillipson P. B.Artikel Jurnal Dataverse2018-07-11T16:50:26ZdigitalBenstonea (Pandanaceae) was circumscribed to include 57 species formerly placed in the genus Pandanus. Field observations accompanied by the study of available herbarium material have brought new insights for the delimitation of certainproblematic species especially in the difficult group of species characterized by an axillary infructescence on a short pedunclecovered by prophylls and the abscission of the basal portion of the drupe at maturity. New combinations based on namesin Pandanus previously treated as synonyms of Benstonea stenocarpa are proposed for three distinct species of this groupfrom Halmahera (Indonesia) and Papua New Guinea. The identity of Benstonea celebica endemic to Sulawesi (Indonesia) is also elucidated and an epitype is designated for this species. Phytotaxa 2014 175(3) 161-165Medicine Health and Life Sciences
101 Ikan Hias Air Tawar Nusantarahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/23WKW3Said Djamhuriyah Syaikh HidayatBuku Dataverse2018-03-25T13:01:04ZdigitalPuji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Pencipta pemilik alam semesta dengan segala isinya dan pengatur semuanya. Karena rahmat dan karunia-Nya salah seorang peneliti kami dapat menyelesaikan penulisan buku 101 Ikan Hias Air Tawar Nusantara. Telah kita ketahui bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam dengan keragaman biodiversitas organisme yang sangat tinggi baik flora fauna maupun mikroorganismenya. Indonesia menjadi salah satu negara besar dalam hal keragaman biota setelah Brazil. Dalam hal ini termasuk keragaman jenis-jenis ikan air tawarnya. Kondisi geografis yang merupakan negara kepulauan menyebabkan banyak jenis ikan yang bersifat endemik di wilayah yang sempit. Ikan-ikan tersebut biasanya mempunyai karakter yang spesifik yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para kolektor ikan hias. Berdasarkan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia mempunyai sebanyak kurang lebih 400 spesies ikan hias tetapi belum semuanya dapat dibudidayakan dan dinikmati. Kemungkinan hanya sebagian kecil saja yang sudah dikenal dan dapat dibudidayakan oleh masyarakat sehingga memberikan nilai tambah untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Buku ini terdiri dari: Bab I: Pendahuluan Bab II: Kelompok Ikan Hias Bab III: Habitat Atau Tempat Hidup Bab IV: Contoh-contoh Habitat Perairan Darat Bab V: Cara Membaca Informasi Jenis-jenis Ikan dalam Buku ini Bab VI: 101 Jenis Ikan Hias Air Tawar Nusantara Bab VII: Asal Papua Bab VIII: Asal Papua Sulawesi Bab IX: Asal Sumatra Kalimantan JawaEarth and Environmental Sciences
Bats Of Waigeo Island Indonesia With New Distributional Recordshttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/5NFLYFWiantoro SigitArtikel Jurnal Dataverse2018-06-25T21:27:08ZdigitalA bat survey on Waigeo island was conducted from May to June 2007 as a part of the widya nusantara expedition. A total of 15 species of bats comprising ten megachiropterans and five microchiropterans were recorded. five species are new records for waigeo island i. e pteropus conspicillatus dobsonia cf. minor nyctimene cf. cylotis paranyctimene raptor and hipposideros papua. based on this survey and previous published records 24 species of bats are found on waigeo island. the record of the montane species N. cf. cylotis in a lowland area gives new information relating to its ecology and systematics. Journal of Tropical Biology and Conservation Vol. 8. 2011. P: 13-26Medicine Health and Life Sciences
Keong Hama Pomacea di Indonesia: Karakter Morfologi dan Sebarannya (Mollusca Gastropoda: Ampullariidae)https://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/FWNVGBIsnaningsih Nur Rohmatin Marwoto Ristiyanti M.Artikel Jurnal Dataverse2018-06-07T18:22:35ZdigitalThe golden apple snail Pomacea is an invasive species not only in Indonesia but mostly in Southeast Asia. The snail caused serious damaged on more than thousands hectares of rice-fields. The study was based on the specimens deposited at the Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) aimed to evaluate the occurrence of Pomacea and its distribution in Indonesia. Based on the shell characters there are four species recognized which are P. canaliculata P. insularum P. scalaris P. paludosa that found from many places and noted that P. canaliculata has wider distribution from Sumatra to Papua. The description of each species was presented at this paper as well as the map of the occurrence of Pomacea in Indonesia. Berita Biologi Vol. 10 No. 4. Hal. 441-447Earth and Environmental Sciences
Ikan Raja Laut (Indonesian Coelacanth Latimeria menadoensis): Status Riset Terkinihttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/OJQ6P2Syahailatua AugyArtikel Jurnal Dataverse2018-08-07T21:04:53ZdigitalCoelacanth or living fossil was discovered in Indonesian in 1997 however the holotype for this species (Indonesian Coelacanth Latimeria menadoensis) was caught in 1998. So far we already have 5 specimen collections with the CCC no 174 175 215 225 and 254. We also understand slightly on its distribution and habitat in Indonesian waters. The collaborative works among Fukushima Aquamarine University of Sam Ratulangi (Manado) and Research Centre for Oceanography – LIPI for observation on Indonesian coelacanth will be extended to other sites such as Papua and North Maluku. Several detailed information on specimen collections are described and some remarkable findings during the last 10 years field observations are also included. Oseana Vol. XXXVI No. 2. ISSN 0126-1877Earth and Environmental Sciences
Komunitas Fitoplankton Kaitannya dengan Kualitas Perairan Danau Sentanihttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/SITZNRSulawesty Fachmijany Suryono TriArtikel Jurnal Dataverse2018-08-26T20:48:04ZdigitalRespon fitoplankton terhadap perubahan lingkungan dapat dilihat dari perubahan keragaman jenis dan kelimpahannya. Keragaman akan rendah jika suatu komunitas didominasi oleh satu atau beberapa spesies fitoplankton. Danau Sentani merupakan salah satu danau besar yang terdapat di Papua letaknya di Kabupaten Jayapura Propinsi Papua. Berbagai aktifitas di Danau Sentani ini akan mempengaruhi kondisi kualitas perairan Danau Sentani maka dilakukan pengamatan mengenai komposisi dan kelimpahan fitoplankton di Danau Sentani. Pengamatan dilakukan pada bulan April 2014 di delapan lokasi di Danau Sentani yang diasumsikan mewakili kondisi perairan danau. Sampel air diambil sebanyak 10 liter disaring menggunakan plankton net no. 25 dan diawet menggunakan lugol 1 persen. Kelimpahan dihitung menggunakan metoda Sedgwick Rafter. Analisa struktur komunitas fitoplankton dilihat dengan menghitung Indeks Keragaman (H’) Indeks Keseragaman (E) dan Indeks Dominansi Simpson (D). Ada enam filum dan 50 spesies fitoplankton yang ditemukan terdiri dari Chlorophyta (23 spesies) Cyanophyta (6 spesies) Bacillariophyta (18 spesies) Chrysophyta (1 spesies) Dinophyta (1 spesies) dan Euglenophyta (1 spesies). Kelimpahan fitoplankton pada bulan April 2014 berkisar antara 231 – 11.693 individu/Liter. Berdasarkan kelimpahannya pada bulan April 2014 Danau Sentani masuk dalam kategori mesotrofik walaupun jika dilihat dari jenis yang mendominasi terlihat kecenderungan bersifat eutrofik. Nilai Indeks Keragaman (H’) D. Sentani bulan April 2014 berkisar 0 609 – 2 464 menunjukan kestabilan komunitasnya rendah sampai sedang Nilai indeks keseragaman di D. Sentani bulan April 2014 berkisar 0 047 – 0 243 nilai ini mendekati nol artinya keseragaman antar spesies dalam komunitas rendah biasanya ada spesies yang mendominasi. Jika dilihat dari nilai Indeks Dominansinya terjadi dominansi spesies pada beberapa daerah pengamatan di D. Sentani Limnotek Perairan Darat Tropis Indonesia Volume 23 No. 2 Tahun 2016Earth and Environmental Sciences
New Taxa And New Records Of Birds From The North Coastal Ranges Of New Guineahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/WROWJCBeehler Bruce M Prawiradilaga Dewi M Artikel Jurnal Dataverse2018-06-20T16:12:14ZdigitalWe report the ornithological results of field trips in 2005 and 2007 to the Foja Mountains of Indonesian New Guinea. Our subsequent analysis of the avifauna of this little-studied and isolated mountain group in the context of the biogeography of New Guinea’s north coastal ranges produced the following results: (1) a new subspecies of the mouse-warbler Crateroscelis robusta from the Foja Mountains; (2) evidence that C. robusta exhibits sufficient geographic variation to warrant subdivision into two or more allospecies; (3) a distinctive new subspecies of the Goldenface Pachycare flavogriseum from the northern ranges of Papua New Guinea; (4) conclusive evidence that the ‘lost’ bird of paradise Parotia berlepschi inhabits the Foja Mountains; and (5) several additional taxonomic and distributional records for the Foja Mountains. Bulletin British Ornithologists\' Club Vol. 130. No. 4. 2010. P: 277-285.Medicine Health and Life Sciences
Two new species of Trichuris (Nematoda: Trichuridae) collected from endemic murines of Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/ZAXJ0XHasegawa Hideo Dewi KartikaArtikel Jurnal Dataverse2018-05-08T16:51:49ZdigitalTwo new species of the genus Trichuris (Nematoda: Trichuridae) parasitic in the old endemic murids of Indonesia are described:T. musseri sp. nov. from Echiothrix centrosa (Murinae: Rattini) in Sulawesi and T. mallomyos sp. nov. from Mallomys rothschildi (Murinae: Hydromyini) in Papua Indonesia. Both species are characterized by having a gradually tapered and sharply pointed distal end of the spicule being readily distinguished from most of the congeners known from murid rodents. Trichuris musseri is readily distinguished from T. mallomyos by having a much smaller body and large number of nuclei per subdivision of stichosome. The resemblance in spicule morphology between the two new species is of special interest because both hosts belong to different tribes and have different habitats and habits. It remains to be elucidatedwhether the resemblance is merely homoplasy or actually reflects close phylogenetic relationship of the parasites Zootaxa 4254: 137-145Medicine Health and Life Sciences
Cellulolytic Yeast Isolated From Raja Ampat Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/APU4ORKanti Atit Sukarno Nampiah Sukara Endang Darusman Latifah KArtikel Jurnal Dataverse2018-07-31T14:13:27ZdigitalThe objective of this study was to select and characterize three yeast selected isolates originating from soil of Raja Ampat region of Papua Indonesia for their potential to produce cellulase . Selection and characterization of cellulolytic yeast was carried out by measuring Cellulolytic Index (IS)with congo red method and measurement of Carboxy Methyl Cellulase (CMC-ase) activity through determination of reducing sugar with dinitrosalycilic methods. Cellulolytic Index (IS) of the isolates Sporobolomyces poonsookiae Y08RA07 Rhodosporidium paludigenum Y08RA29 and Cryptococcus flavescens Y08RA33were 1.40 2.60 and 1.66 respectively. CMC-ase produced optimum at pH 8 at 37ºC by isolate Y08RA07 whereas for Y08RA29 andY08RA33 were at pH 6 at28ºC. Paper waste was good substrate for cellulase enzyme production by isolate Y08RA07 while for two other isolates the best substrate was CMC. Isolate Y08RA29 having highest cellulase activities when grown in CMC while isolates Y08RA07 and Y08RA33 achieved highestenzyme activity when grown in bamboo leaf. Vol. 16 No. 1. 2012Medicine Health and Life Sciences
The Moluccan Short-Tailed Snakes of the Genus Brachyorrhos Kuhl (Squamata: Serpentes: Homalopsidae) and the Status of Calamophis Meyerhttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/P464UHJohn C. Murphy Mumpuni Ruud de Lang David J. Gower Kate L. SandersArtikel Jurnal Dataverse2018-06-27T15:23:58ZdigitalBrachyorrhos Kuhl represents a terrestrial fangless vermivorous clade of the Homalopsidae. Most recent discussions of the genus consider it to contain two species Coluber albus Linnaeus and Calamophis jobiensis Meyer. These poorly known snakes have had a deeply intertwined and confused nomenclatural history. Here we review Brachyorrhos and fi nd that B. albus is restricted to Seram and Ambon but may be present on other nearby islands in the Seram group; Rabdion gastrotaenia Bleeker (from Buru) is assigned to the genus Brachyorrhos and Atractocephalus raffrayi Sauvage (from Ternate) is also assigned to the same genus. The species on Halmahera is described and named B. wallacei. Meyer’s genus Calamophis is resurrected for jobiensis and its undescribed relatives which are endemic to the Bird’s Head region of Western Papua and Yapen Island. Brachyorrhos species are endemic to the Moluccas and possibly the surrounding area in eastern Indonesia; Calamophis also appears to belong to the Homalopsidae. The Raffles Bulletin of Zoology Vol. 60 No. 2. Hal. 501-514Earth and Environmental Sciences
Studi kimia dan farmakologi tumbuhan obat Indonesia ""Sarang semut"" Myrmecodya pendens (Rubiaceae)https://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/OLBZAZSimanjuntak PartomuanRiset Kompetitif LIPI Dataverse2018-02-01T15:10:56ZdigitalSarang semut adalah tanaman obat asli Indonesia yang digunakan berdasarkan warisan leluhur masyarakat Papua. Publikasi ilmiah mengenai tanaman ini masih belum banyak ditemukan. Oleh karena itu perlu dilakukan studi kimia farmakologi untuk mengidentifikasi jenis-jenis tanaman sarang semut Indonesia mengetahui senyawa-senyawa kimia yang terkandung dalam tumbuhan tersebut mendapatkan senyawa kimia aktif yang berpotensi untuk antioksidan dan antikanker yang aman untuk dikonsumsi dan memberikan informasi pengobatan alternatif penyakit kanker yang lebih aman dan efisien. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biofarmaka Puslit Bioteknologi LIPI Cibinong dan Laboratorium Kimia Bahan Alam Puslit Kimia-LIPI Serpong. Materi penelitian adalah tumbuhan sarang semut (Myrmecodya pendens) yang diperoleh dari Wamena Papua. Percobaan menggunakan mencit dan sel tumor jenis Adenocarcinoma mamae yang diperoleh dari Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta. Beberapa uji dilakukan untuk mendapatkan hasil studi yang optimal antara lain uji kemasan ekstrak air penapisan fitokimia uji toksisitas menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test uji aktivitas antioksidan dengan metode penangkapan radikal bebas DPPH uji anti kanker secara in vitro (kanker payudara rahim dan leukemia) uji komposisi dan kandungan senyawa kimia dalam tanaman sarang semut uji hepatoprotektor dan antioksidan terhadap semua ekstrak (ekstrak etilasetat n-butanol dan air) isolasi dan pemurnian senyawa kimia dari ekstrak air dan elusidasi struktur kimia senyawa aktif antikanker/antioksidan dan hepatoprotektor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak air dari tanaman sarang semut dapat dikonsumsi dengan aman hingga 15 g/kg BB. Kandungan senyawa kimia yang paling utama di dalam tanaman sarang semut adalah senyawa flavonoid. Ekstrak air yang digunakan sebagai antikanker (payudara dan rahim) mempunyai daya aktivitas yang rendah (lemah) sedangkan antikanker (leukemia) mempunyai daya aktivitas yang tinggi. Ekstrak n-BuOH dan air mempunyai daya aktivitas yang tinggi sebagai zat aktif hepatoprotektor. Hasil elusidasi struktur kimia ekstrak n-butanol diketahui sebagai senyawa glikosida. Perlu dilakukan pengujian lebih lanjut secara in siliko terhadap senyawa murni yang diperoleh dari ekstrak n-butanol dan air yang berpotensi sebagai hepatoprotektor. Pengujian farmakologi lanjutan juga diperlukan terhadap senyawa aktif yang telah teridentifikasi dan memiliki potensi sebagai hepatoprotektor (Cut Armansyah)Chemistry
Ekspor Telur Ikan Terbanghttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/XJMQ7WSyahailatua AugyArtikel Jurnal Dataverse2018-04-19T14:29:10ZdigitalBanyak orang mengetahui ikan terbang karena jenis ikan ini memang dapat terbang. Namun tidak banyak orang mengetahui tentang telur ikan atau pernah mencicipinya. Potensi telur ikan terbang di Indonesia sangat menggiurkan karena harga jual per kilogran keringnya dapat mencapai Rp 300.000 - Bandingkan dengan harga jugal ikan segarnya yang hanya Rp 5000/ kg atau ikan keringnya yang hanya Rp.10.000/kg. Akibatnya perburuan telur ikan terbang menjadi marak dan merambah ke beberapa daerah lain di luar Sulawesi Selatan (Sulsel) seperti Maluku dan Papua. Sampai saat ini Sulsel masih merupakan pusat perdagangan utama telur ikan terbang di Indonesia karena ekspor telur ikan terbang dari daerah ini menjadi andalan penghasil devisa setelah udang. Usaha eksport komoditi telur ikan terbang dari Sulsel sudah dimulai sejak tahun 1977. Majalah Trubus No. 464 Edisi Juli 2008 Hlm: 158-159Earth and Environmental Sciences
Tinjauan Tentang Nepenthes (Nepenthaceae) Di Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/HR1L15Mansur MuhammadArtikel Jurnal Dataverse2018-08-12T18:02:03ZdigitalNepenthes spp.(Kantong semar) adalah tumbuhan karnivora (Carnivorous plant) karena dapat menjebak serangga dan binatang kecil lainnya untuk dimakan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Tahun 1996 di dunia jumlahnya diketahui 80 jenis seiring dengan banyaknya ditemukan jenis-jenis baru kini jumlahnya telah bertambah menjadi 139 jenis dan 68 jenis (48 9 persen) di antaranya hidup dan tumbuh di berbagai pulau di Indonesia seperti Pulau Sumatra (34 jenis) Kalimantan (22 jenis) Jawa (3 jenis) Sulawesi (11 jenis) Maluku (3 jenis) dan Papua (11 jenis). Herbarium Bogoriense sebagai pusat penyimpanan spesimen tumbuhan terbesar di Indonesia saat ini menyimpan 2135 sheet dari 72 jenis Nepenthes yang dikoleksi dari berbagai pulau di Indonesia maupun dari negara lain. Tulisan ini akan meninjau jumlah Nepenthes saat ini dan penyebarannya di berbagai pulau di Indonesia. Berita Biologi Vol. 12 No. 1. 2013. P:1-7.Earth and Environmental Sciences
Sebaran Jenis Dipterocarpus (Kruing) di Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/OKTYJZPurwaningsih Polosakan Ruddy Artikel Jurnal Dataverse2018-05-24T20:54:19ZdigitalDipterocarpaceae merupakan salah satu suku yang paling banyak tumbuh di Indonesia. Persebaran suku dipterocarpaceae tidak merata di setiap pulau ke arah timur persebarannya semakin kecil terutama marga Dipterocarpus. Marga Dipterocarpus (“kruing”) sebagai penghasil oleoresin (minyak esensial) terdiri atas 39 jenis dengan sebaran jenis terbanyak di Kalimantan (28 jenis) dan Sumatera (25 jenis) tetapi tidak dijumpai di Sulawesi Maluku dan Papua. Jenis Dipterocarpus merupakan pohon besar dengan ciri khas daun dengan venasi yang melipat-lipat seperti kipas berbiji besar dan bersayap dua. Tempat tumbuh umumnya di dataran rendah dengan ketinggian <500 m dpl. tapi ada beberapa jenis Dipterocarpus yang tumbuh di rawa diantaranya Dipterocarpus tempehes D. validus D. elongtus D. semivestitus dan D. coriaceus serta ada 1 jenis yang tumbuh di hutan kerangas yaitu D. borneensis. Vol. 3 No.1. 2014. Hlm: 172-176Medicine Health and Life Sciences
Epikatekin sebagai komponen utama pada daun kayu sina (Phyllocladus hypophyllus Hook. F: Podocarpaceae)https://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/EDTUB0Praptiwi Jamal Yuliasri Keim Ary P. Agusta AndriaProsiding Dataverse2018-05-22T17:19:03ZdigitalSejauh ini populasi tumbuhan kayu sina (Phyllocladus hypophyllus Hook. F.: Podocarpaceae) di Indonesia hanya ditemukandi Sulawesi dan Papua. Secara tradisional daun kayu sina telah digunakan oleh masyarakat sebagai obat sakit perut dan obat penyakitkulit namun belum ada laporan senyawa kimia aktif dari daun kayu sina yang tumbuh di Indonesia. Hasil isolasi senyawa kimia padaekstrak etil asetat daun kayu sina mengindikasikan bahwa senyawa kimia utama termasuk dalam golongan flavonoid. Identifikasistuktur molekul senyawa kimia utama berdasarkan data spektroskopi (1D- dan 2D-NMR) dan membandingkan dengan dataterpublikasi memperlihatkan bahwa senyawa tersebut adalah epikatekin. Senyawa katekin telah dikenal sebagai salah satu antioksidanalami yang potensial yang mengindikasikan bahwa daun kayu sina juga dapat digunakan sebagai antioksidan alami.Kata kunci : Antioksidan epikatekin kayu sina (Phyllocladus hypophyllus) senyawa kimia utama Prosiding Seminar nasional Biodiversitas vol. 4 no.3 hal : 185-187Medicine Health and Life Sciences
Anggrek Mini Genus Cadetia Kebun Raya Bogorhttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/SQ41UMGarvita R. Vitri Handini Elizabeth Wawangningrum HaryProsiding Dataverse2018-03-04T02:40:59ZdigitalKeanekaragaman koleksi anggrek Kebun Raya Bogor sangat tinggi mulai dari bunga yang berukuran terkecil hingga terbesar ukuran daun yang terkecil hingga yangterbesar. Kebun Raya Bogor memiliki ratusan koleksi anggrek diantaranya adalah koleksi anggrek genus Cadetia. Bunga anggrek Cadetia berukuran sangat kecil berkisar 0.5 - 2 cm dan merupakan salah satu genus anggrek terkecil di Indonesia. Koleksi anggrek Cadetia spp. Kebun Raya Bogor hasil eksplorasi yang berasal dari Papua Nusa Tenggara Barat dan Jawa adalah Cadetia taylorii (F. Muell.) Schltr. C. collina Schltr. C. maideniana (Schltr.) Schltr. C. homocroma (J.J. Sm) Schltr. dan C. micronephelium (J.J. Sm) Schltr. Prosiding Seminar Inovasi Florikultura Nasional 2013. ""Membangun Industri Florikultura yang Mandiri dan Berdaya Saing Melalui Pengembangan Invensi dan Penerapan Inovasi Berbasis Sumberdaya Nasional"". Hal. 183-190 ISBN 978-979-8257-51-3Medicine Health and Life Sciences
Management culture of the redclaw Cherax quadricarinatushttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/RH5AXPAji Ludi ParwadaniArtikel Jurnal Dataverse2018-04-25T20:38:51ZdigitalIn North Queensland Australia good management culture practices were applied. The farm have water supply or groundwater which can be pumped to the ponds and the soil is clay that can reduce seepage. Aeration is obtained by using paddle wheels and airlift pump. Moreover liming the pond and used of fertilizer was also applied to increase the nutrient in the pond. The most common factor inhibit crayfish production is predation by water rats and bird. To deal with those problems farmers use net for covering the ponds and fencing the ponds. However the farm lacks to have water quality check and the stocking density of crayfish too high due to efficiency production cost. Redclaw are harvested by flow trap and then purging for one day to improve the taste and clean from mud. The good quality for market is redclaw which have weight around 130-150 gram. In the future aquaculture strategies such as culturing monosex male redclaw is good choice because male grow faster and bigger than female. Jurnal Perikanan dan Kelautan Univ. Negeri Papua. Vol.6. No.2.Thn 2010.183-188Medicine Health and Life Sciences
New genera and new species of Hexapodidae (Crustacea Brachyura) from the Indo-West Pacific and east Atlantichttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/XT6UKCRahayu Dwi Listyo Peter K.L. NgArtikel Jurnal Dataverse2018-10-02T19:56:17ZdigitalThe hexapodid genera Hexapus De Haan 1833 Hexapinus Manning & Holthuis 1981 Latohexapus Huang Hsueh & Ng 2002 and Hexaplax Doflein 1904 are revised and redescribed on the basis of their respective type species. Hexapus s. str. is redefined and a new species is described from Indonesia. Hexapinus is restricted for H. latipes (De Haan 1835) H. edwardsi (Serène & Soh 1976) and three new species from Indonesia Philippines China and Japan. A new genus Mariaplax is established for Lambdophallus anfractus Rathbun 1909 Hexapus granuliferus Campbell & Stephenson 1970 and 11 new species from the China Japan Vietnam Philippines Indonesia Singapore New Guinea and Australia. A new genus Rayapinus is recognised for an unusual new species from Japan. Two new species of Hexaplax from Papua New Guinea Philippines Taiwan and Japan are described. A new genus Theoxapus is also established for the east Atlantic Hexapus buchanani Monod 1956 which had previously been placed in Hexapinus. A revised key to the genera of Hexapodidae is presented. Raffles Bulletin of Zoology Vol. 62 4 July 2014. P: 396-483Earth and Environmental Sciences
Reproduksi Phaleria spp. di Kebun Raya Bogor dan Upaya Konservasinyahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/ALEWMOHidayat SyamsulArtikel Jurnal Dataverse2018-02-19T14:46:41ZdigitalReproduction Habits (Flowering Fruiting and Germination) of Phaleria spp. at Bogor Botanic Garden One Step Toward Its Conservation. Phaleria is a potential genus for ornamental and medicinal plant. This genus consist of 38 species in the world of which distributed in Indonesia particularly in Sulawesi and Papua three of them are conserved at Bogor Botanic Garden. In some countries the plants have been used for medical treatments craft Jood sources and ornamental plant. As a preliminary researchfor the next conservation efforts an evaluating of flowering/fruiting season and germination growth of Phaleria collection was studied. The reason of the research there is no many seed on the garden grow as a seedling. So the germination studied on the nursery. The result show that January to March as a peak season for flowering/fruiting of Phaleria. The germination rate is very fantastic 10% of seed have been germinated one day after planted. The result also shows that the fallen seed have germinated higher than picked seed. A thick manure on the land and low sunlight penetration might be the problems on the garden for growing seedling of Phaleria. Media Konservasi Vol. 14 No.1 April 2009. Hal. 22 - 26Medicine Health and Life Sciences
Pertumbuhan dan Penampilan Warna serta Reproduksi Ikan Pelangi Mungil Melanotaenia praecox pada pH Perairan yang Berbedahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/ZYLR7LSaid Djamhuriyah S. Mayasari NoviProsiding Dataverse2018-09-09T20:24:08ZdigitalMelanotaenia praecox also known as dwarf rainbowfish is one of the ornamental fish that became export commodity. It live endemic in the Iritoi area and Dabra Irian (Papua). Aim of this study was to determine the effect of different water pH on the growth and the color appearance of M.praecox. The growth parameters (length and weight) the color of fish and survival rate was observed. The treatments were four different pH range is pH 4-5 5-6 6-7 and 7-8 with repeated three times. Each treatment contained 10 fishs with the age was 3 months old. During the study fish fed with Chironomus . The research lasted for 4 (four) months from November 2011 until March 2012 with the data collection every week. The test results showed that M.praecox fish can tolerate pH range 4-8. The weight growth color appearance and reproduction of M.praecox was not affected/not significantly different (P>0.05) in all treatments. The range of pH 6-7 is better for maintenance of M.praecox because fish length growth can be optimized. Prosiding Konferensi Akuakultur Indonesia 2013. Hal. 89-95 ISBN 978-602-19680-2-4Earth and Environmental Sciences
Three New Species Of Rainbowfishes (Melanoteniidae) From The Birds Head Peninsula West Province Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/NHE0G6Hadiaty Renny KurniaArtikel Jurnal Dataverse2018-05-23T20:16:45ZdigitalThree new species of melanotaeniid rainbowfishes are described from fresh waters of the Birds Head Peninsula West Papua Province Indonesia. Melanotaenia ericrobertsi is described from 41 specimens 18.4-52.1 mm SL from the upper Kladuk River system. It was first collected in 1982 and included among the type series of M. irianjaya. However recent genetic evidence reveals it is a distinct species closely related to Melanotaenia from nearby drainages including M. ajamaruensis M. boesemani M. fasinensis and two additional new species described in this paper M. laticlavia and M. multiradiata. Melanotaenia laticlavia is described on the basis of 6 specimens 33.7- 69.6 mm SL from Aifuf Creek and M. multiradiata from 23 specimens 37.4-122.5 mm SL from Sisiah Creek. These Birds Head species are primarily distinguished on the basis of distinctive adult male colour patterns and cytochrome b genetic analysis. However M. laticlavia ex- hibits two separate patches of vomerine teeth an unusual melanotaeniid feature and M. multiradiata has a relatively high pectoral-fin ray count (> 90 persen with 15 rays or more). Aqua Vol. 20 No. 3. P: 139-158.Medicine Health and Life Sciences
Population Genetic Structure of Blue-Spotted Maskray Neotrygon Kuhlii and Two Other Indo-West Pacific Stingray Species (Myliobatiformes: Dasyatidae) Inferred from Size-Polymorphic Intron Markershttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/KUG0V8Borsa Philippe Arlyza Irma S. Laporte Martin Berrebi PatrickArtikel Jurnal Dataverse2018-09-19T19:10:12ZdigitalExon-primed intron crossing DNAmarkers (EPICs)were screened forMendelian-like allele size polymorphisms in three stingray species (Himantura gerrardi Neotrygon kuhlii and Taeniura lymna) from the central Indo-West Pacific where they are commercially exploited. Four to 7 size-polymorphic intron loci were selected in a species and were subsequently tested as genetic markers of stock structure. Sharp genetic differentiation was observed between populations within each species across the Indo-Malay-Papua archipelago (Weir and Cockerham's ^θ-values reaching 0.153–0.557 over a few thousand kilometers). A trend of increasing genetic differentiation with increasing geographic distance was apparent in N. kuhlii in which populations distant by 3000 km were differentiated by an estimated ^θ ~0.375. This value was an order of magnitude higher than usually reported in coastal benthic teleost fishes and indicates strong sub-population structure. This is likely at least partly a consequence of the sedentary benthic habits of N. kuhlii at all life stages. Because replenishment of overexploited populations of N. kuhlii and two other stingray species from the central Indo-West Pacific is unlikely at ecological timescales management should be planned at the local geographic scale. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology Vol. 438. Hal. 32-40Earth and Environmental Sciences
Variasi Morofologi Pandanus polycephalus Lam. di Kebun Raya Bogorhttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/S0TE0OEsthi Yunita Nur RugayahArtikel Jurnal Dataverse2018-06-25T14:28:37ZdigitalPandanus polycephalus dipertalakan pertama kali oleh Lamarck pada tahun 1785 kemudian Warburg tahun 1900 mempertelakan P. polycephalus mengacu pada P. humilis Rumphius (1743) dan P. humilis Lour (1790). Beberapa pertelaan terdahulu menunjukkan adanya variasi jumlah sefalia dalam satu tandan yaitu 3—8 4—6 dan 5—8. Pengamatan terhdap koleksi hidup di Kebun Raya Bogor memperlihatkan adanya tiga variasi yaitu varian pertama memiliki helaian daun tumbuh menggerombol di ujung perbuahan di ujujng jumlah sefalia 6—8 dalam satu tandan braktea putih kehijauan dan varian kedua mempunyai helaian daun menyebar perbuahan di samping jumlah sefalia dalam satu tanda 4—7 braktea jingga kehijauan sedangkan varian ketiga memiliki karakter kombinasi kedua varia lainnya dengan daun tersebar perbuahan di ujung jumlah sefalia 5—8 braktea lingkaran luar hijau keputihan dan braktea lingkaran dalam cenderung jingga kehijauan. Daerah persebaran P. polycephalus Lam. Di Indonesia adalah di Jawa Sumatra Sulawesi Maluku New Guinea dan Papua. Floribunda 2012 4(4): 83-87.Medicine Health and Life Sciences
Highland species and temperature requirement for germination: a case from two endemic Papuan Pittosporum (Pittosporaceae) specieshttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/IY7GWLSatyanti Annisa Kuswantoro Farid Susanto Eko Utomo Trisno Mahmudin Mahmudin Fijridiyanto Izu AndryArtikel Jurnal Dataverse2021-03-08T01:33:15ZdigitalClimate change including warming and drying is currently the biggest challenge for plant regeneration. We conducted two experiments on how temperature affected the germination of Pittosporum pullifolium and P. spicessens both endemic to Central Papua highlands. P. pullifolium habitat temperature at night could reach 8°C whereas P. spicessens habitat temperature ranged from 19°C early in the morning up to 26°C at midday. The first experiment was to understand the effect of chilling on P. pullifolium germination initiation. Our study showed that P. pullifolium was dependent on cold stratification for its germination. Without cold stratification the germination was absent even though the temperature range of sowing environment is at ca. 13–26°C (Cibodas Botanic Gardens). With a cold stratification at 6–8°C (constant) for more than a month germination of P. pullifolium occurred with better germination rate under a light. Subsequently we carried out extended cold stratification for a month and interestingly the germination still occurred but now it is better under dark condition. For P. spicessens the germination at its habitat temperature range (Wamena) and in the warmer environment (Bogor Botanic Gardens) both occurred at more than two weeks after sowing. Buletin Kebun Raya Vol.18 No.1 ISSN 2460-1519Medicine Health and Life Sciences
Synodus nigrotaeniatus a new species of lizardfish (Aulopiformes: Synodontidae) from Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/TNPN88G Allen M.V Erdmann Peristiwady TeguhArtikel Jurnal Dataverse2018-10-04T21:54:41ZdigitalA new species of lizardfish Synodus nigrotaeniatus n. sp. is described from Lembeh Strait North Sulawesi Province Indonesia on the basis of six specimens 129.7–233.5 mm SL. Diagnostic features include 11–12 (usually 12) dorsal-fin rays 12–14 anal-fin rays 13 pectoral-fin rays 47–49 lateral-line scales 48–49 total vertebrae a deep suborbital pore with prominent surrounding fimbriae and a rudimentary adipose fin that is scarcely visible without magnification. The new species is an apparent close relative of S. sageneus (mainly Australian distribution but records from Sri Lanka Bali and West Papua) sharing most morphological and meristic features. Nevertheless the two species differ in markings with S. sageneus lacking the black midlateral stripe that is a key feature of S. nigrotaeniatus. The new species has a slightly wider interobital space than S. sageneus (mean 4.4 persen vs. 3.5 persen SL) and slightly lower vertebral and lateral-line scale counts (48–49 and 47–49 respectively vs. usually 51–54 and 51–55). Both species possess a well-developed suborbital pore but the surrounding fimbriae of S. nigrotaeniatus are more numerous sometimes branched and extend upwards along the rear margin of the eye compared to those of S. sageneus which are generally fewer thicker and shorter and do not extend along the posterior edge of the eye. Journal of the Ocean Science Foundation Vol. 26 2017. P: 59-67Earth and Environmental Sciences
Etnobotani Jenis-Jenis Pandanaceae Sebagai Bahan Pangan di Indonesiahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/Z6P0OQPurwanto Y. Munawaroh EstiArtikel Jurnal Dataverse2018-02-19T15:37:47ZdigitalEthnobotany study the species of Pandanaceae as food in parts of Indonesia is based on the results of a study carried out in stages from 1990 until 2008. This study aimed to explore alternative sources of additional food family Pandanaceae and basic data for developing a new food source for the wealth of food in Indonesia. This study was important because there were no detailed data reveal about the sources of food that comes from the famity of Pandanaceae. Data were obtained through interviews exploration and direct observation and literature study. The study showed that the family of Pandanaceae had numerous benefits not only as craft materials and local technology but some kind of famity Pandanaceae useful as a medicinal flavoring materials dyes and food supplies. Recorded eight species that had value as food were Pandanus conoideus Pandanus brosimus Pandanus julianettii Pandanus tectorius Pandanus dubius Pandanus iwen Pandanus krauelianus and Sararanga sinuosa. Species of pandanus like the Pandanus conoideus known as red fruit has economic value after this species of Pandanus known efficacious drugs. Traditionally this species has benefits as a food flavoring material that is as a source of vegetable sauce for the people of Papua. While the species of Sararang a sinuosa. Besides potential as fruits the fruit has also content vitamin C that relatively quite high. The detailed results of phytochemical analysis and nutritional value of Pandanus spp as food materials presented in this paper. Berkala Penelitian Hayati Edisi Khusus: 5A 2010. Hal. 97-108Medicine Health and Life Sciences
Penanggulangan kemiskinan di Indonesia; analisa strategi nasional atas peran negara donor MNCs dan lembaga internasionalhttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/GCAIOUElisabeth AndrianaRiset Kompetitif LIPI Dataverse2018-02-04T01:09:07ZdigitalMenurut laporan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) bulan Juli 2010 pemerintah telah berhasil menurunkan angka kemiskinan di Indonesia berdasarkan beberapa indikator sesuai dengan Sasaran Tingkat Kemiskinan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM) 2010. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) menurun dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) membaik. Keberhasilan ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Indonesia untuk memenuhi kesepakatan global (Millenium Development Goals/MDGs) di tingkat nasional. Keberhasilan Indonesia tidak lepas dari dukungan pihak internasional seperti bantuan dana dan investasi dari Bank Dunia. Sejak akhir tahun 2009 Bank Dunia telah menambah investasi bagi keberlanjutan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di perdesaan (sebagai salah satu program terbesar di dunia) dan mendukung penanggulangan kemiskinan di perkotaan. Tujuan penelitian: (1) menganalisis koordinasi antarlembaga pemerintah di pusat serta antarpemerintah pusat dan daerah (TKPK dan TKPKD) (2) menganalisis efektivitas program bantuan dari perspektif donor dan penerima bantuan (3) membuat rekomendasi kebijakan dan alternatif solusi/model untuk memperbaiki strategi nasional penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Penelitian tahun 2009 dilakukan di provinsi dan beberapa kabupaten di Pulau Jawa sedangkan tahun 2010-2011 di Provinsi Aceh Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua. Penelitian tahun 2009 menghasilkan gambaran umum mengenai karakteristik kemiskinan di Pulau Jawa yang daerahnya memiliki banyak kesamaan mengenai persoalan kemiskinan dan penyebabnya. Hasil penelitian tahun 2010 persoalan kemiskinan di luar Pulau Jawa terutama di Aceh NTT dan Papua memiliki dimensi dan faktor penyebab yang lebih bervariasi dari segi geografi iklim dimensi politik dan keamanan dan aspek lingkungan. Beberapa kendala dalam penanggulangan kemiskinan di Indoensia: (1) kondisi dan kebutuhan masyarakat miskin belum dipahami secara sama oleh pemerintah dan pihak internasional; (2) indikator kemiskinan berbeda antara nasional dengan lokal/daerah; (3) faktor penyebab kemiskinan belum dianalisis secara menyeluruh sehingga program bersifat parsial; (4) implementasi program tidak integratif atau sektoral sehingga sulit berkoordinasi antarlembaga (pemerintah dan non-pemerintah) secara nasional dan lokal; (5) sifat program tidak berkelanjutan (temporer/pilot project); (6) fokus kebijakan makroekonomi nasional pada peningkatan pertumbuhan ekonomi sehingga aspek pemerataan kebutuhan riil penduduk (miskin) tidak terpenuhi; (7) infrastruktur (jalan) buruk akibatnya tidak mampu menjangkau penduduk (miskin) di pedalaman; (8) ketidakpercayaan masyarakat terhadap kemampuan birokrasi lokal dalam menyalurkan bantuan dan pengelolaan dana bantuan (terutama di daerah konflik dan pasca-konflik). Penelitian tahun 2011 akan menganalisis peran internasional yang dalam penelitian ini mencakup karakter dan signifikansi program bantuan fungsi dan cara setiap donor/lembaga internasional.Peran internasional terdiri atas peran secara langsung seperti negara donor dan lembaga internasional baik melalui skema APBN maupun yang langsung kepada masyarakat di daerah serta peran tidak langsung yang dilakukan oleh perusahaan multinasional/ MNCs melalui program Corporate Social Resposibility(CSR) dan Corporate Social Accountability (CSA).Penelitian ini menghasilkan usulan model bantuan internasional dari perspektif Indonesia.Social Sciences
Biogrouting: pemanfaatan mikroba laut pengendap karbonat dalam penanganan erosi pantaihttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/EUCIPXLisdiyanti PuspitaRiset Kompetitif LIPI Dataverse2018-02-04T21:21:07ZdigitalTeknologi biogrouting merupakan teknologi yang menyimulasikan proses diagenesis yaitu transformasi butiran pasir menjadi batuan pasir (calcarenite/sandstone). Kristal kalsit (CaCO3) yang terbentuk dari teknologi biogrouting akan menjadi jembatan antara butiran pasir sehingga menyebabkan proses sementasi dan mengubah pasir menjadi batuan pasir. Teknik ini merupakan teknologi baru di dalam ilmu geologi dan mikrobiologi yang mulai diaplikasikan sejak sekitar tahun 2005. Pada penelitian ini telah dilakukan pencarian mikroba dari alam Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk biogrouting serta analisis teknik dan mekanika tanah hasil biogrouting sehingga dapat diaplikasikan. Tujuan penelitian untuk mendapatkan bakteri yang mempunyai aktivitas enzim urease tinggi menentukan kondisi optimum bakteri laut yang unggul dalam menghasilkan kalsit memperoleh aspek ekonomi produksi dalam pengembangan media dan kondisi pertumbuhannya menentukan prosedur pembuatan semen yang paling efisien analisis kekuatan pasir hasil biosementasi dan pengembangan teknologi skala pilot. Penelitian dilakukan selama tiga tahun (tahun 2010- 2012) dengan jumlah sampel 7 buah sampel tanah dari Grassberg Papua 7 buah dari Gua Selarong dan Pantai Parangtritis Yogyakarta 20 buah dari Sulawesi Tenggara dan 49 buah dari Pulau Satonda Bima Nusa Tenggara Barat. Metode penelitian dilakukan melalui isolasi dan purifikasi bakteri penghasil urease uji aktivitas enzim urease uji kuantitatif aktivitas bakteri biogrouting penentuan bakteri untuk biogrouting identifikasi bakteri secara molekuler dengan menggunakan gen 16S rRNA produksi bakteri biogrouting skala sedang pemeliharaan/preservasi isolat bakteri karakterisasi biokimia bakteri rancang bangun alat proses biogrouting skala laboratorium dan percobaan proses biogrouting isolat terpilih uji proses biogrouting pengujian sifat fisik dan mekanik pasir sebelum dan setelah dilakukan proses biosementasi. Hasil penelitian menunjukkan telah diperoleh 10 bakteri unggul dari Papua Yogyakarta Sulawesi dan Pulau Satonda yang menghasilkan enzim urease tinggi. Bakteri ini telah dikarakterisasi dengan baik dan telah diuji kemampuannya dalam menghasilkan enzim urease aktivitas tinggi dan mampu menghasilkan kalsit jika terdapat urea dan CaCl2 di sekitar lingkungan pertumbuhannya. Pemanfaatan bakteri dari aspek teknik sipil dan mekanika tanah telah dicoba untuk penelitian skala lapangan menggunakan tanah gambut pasir dari daerah Karawang yang banyak mengandung besi (berwarna hitam) dan pasir dari Pulau Pari yang banyak mengandung kapur (berwarna putih). Percobaan biosementasi skala laboratorium telah dilakukan menggunakan isolat P3BG43 yang diikuti dengan pengujian directshear dan permeabilitas. Pada penelitian tahun kedua reaksi biosementasi yang dilakukan mampu membentuk batuan pasir (sandstones) struktur pasir secara visual dan sentuhan terlihat keras serta kuat. Selama reaksi biosementasi diikuti dengan adanya kenaikan pH pasir menjadi alkalin. Pada tahun ketiga dilakukan percobaan skala sedang pengerasan biogrouting di Pulau Pari. Hasil percobaan tidak seperti yang diharapkan karena batuan yang terbentuk tidak dapat mengeraskan seluruh pasir yang disiapkan. Disarankan untuk melakukan validasi data dengan melakukan pengujian ulang dan pengamatan kristal kalsit selama reaksi biosementasi menggunakan SEM dan XRD.Chemistry
Eksplorasi dan pemanfaatan Musa acuminata liar sebagai tetua jantan dalam pemuliaan pisang triploid tahan Fusariumhttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/HPPX82Poerba Yuyu SuryasariRiset Kompetitif LIPI Dataverse2018-02-04T20:30:18ZdigitalIndonesia merupakan pusat keanekaragaman genetik pisang yang memiliki lebih dari dua ratus varietas pisang (Musa spp). Dari jumlah tersebut yang telah dibudidayakan oleh petani merupakan varietas alami yang belum mengalami perbaikan/ pemuliaan sehingga banyak mengalami kegagalan karena serangan penyakit layu Fusarium. Pengendalian Fusarium secara kimia tidak efektif karena bersifat patogen yang menular lewat tanah. Salah satu cara pengendalian yang tepat untuk penyakit Fusarium adalah dengan melalukan persilangan dengan eksplorasi dan memanfaatkan Musa acuminata liar sebagai tetua jantan untuk mendapatkan bibit baru yang tahan penyakit layu Fusarium. Persilangan dilakukan dengan cara menyilangkan tetua betina tetraploid dengan tetua jantan diploid. Penelitian ini bertujuan untuk melalukan pemuliaan pisang triploid tahan terhadap penyakit layu Fusarium melalui persilangan antara tetua tetraploid hasil induk poliploidi dengan tetua diploid pisang liar. Penelitian dilakukan melalui beberapa kegiatan diantaranya penelitian laboratorium rumah kaca pembibitan dan penelitian lapangan. Penelitian laboratorium meliputi kultur tunas dan perbanyakan tunas pisang hasil eksplorasi. Kegiatan rumah kaca meliputi aklimatisasi kultur tunas dan embrio pisang hasil eksplorasi induksi poliploid serta uji ketahanan pisang. Pembibitan meliputi penanaman bonggol pisang hasil eksplorasi dan pembibitan tanaman hasil aklimatisasi dari rumah kaca. Adapun penelitian lapangan meliputi kegiatan eksplorasi mencari plasma nutfah pisang yang memiliki sifat unggul seperti tahan penyakit pendek tandan panjang dan vertikal jumlah sisir banyak rasa manis dan ukuran buah besar. Eksplorasi dan kegiatan koleksi plasma nutfah Musa spp dilakukan di Sumatera Barat Jawa Barat Bengkulu Sulawesi Utara dan Papua. Selain itu dilakukan penanaman dan pemeliharaan pisang hasil eksplorasi baik pisang liar maupun pisang budidaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksplorasi dan koleksi plasma pisang (Musa spp) di Sumatera Barat Jawa Barat Bengkulu Sulawesi Utara Sulawesi Selatan dan Papua berhasil mengumpulkan 79 nomor koleksi hidup berupa bonggol/anakan dan biji pisang 1.181 sampel material DNA dan 21 koleksi specimen herbarium Musa spp. Dari 176 kombinasi persilangan 36 (20 45%) kombinasi persilangan menghasilkan biji yang berasal dari kombinasi persilangan penggunaan tiga dari 14 pisang budidaya tidak berbiji yaitu pisang madu pisang rejang 1 dan pisang rejang 2 dan 9 dari 16 pisang liar berbiji sebagai tetuanya. Biji hibrid paling banyak (18.841) dihasilkan dari 357 persilangan antara Musa balbisiana klutuk sukun (tetraploid berbiji) tetua rejang 1 (diploid). Hasil uji ketahanan hibrid pisang Madu dengan Musa acuminta var malaccensis (MDMM) menunjukkan bahwa hibrid MDMM tahan terhadap penyakit layu Fusarium. Disimpulkan bahwa untuk mencegah adanya serangan penyakit layu Fusarium para petani diharapkan dapat menanam pisang dari hasil pemulian antara pisang Madu pisang Musa acuminta var malaccensis (MDMM) karena terbukti lebih tahan terhadap infeksi Fusarium.Agricultural Sciences
Prospek pemanfaatan Porphyra sp. dalam rangka peningkatan ketahanan pangan berbasis sumber daya rumput laut endemis Malukuhttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/G7SM1MTapilatu YosminaProsiding Dataverse2018-05-13T21:05:25ZdigitalProvinsi Maluku dikenal sebagai salah satu sentra penghasil rumput laut di Indonesia. Dari sekian banyak jenis yang ada rumput laut jenis Porphyra sp. merupakan salah satu yang hanya didapati di perairan Maluku. Rumput laut ini tidak didapati di wilayah perairan lain di Indonesia kecuali di perairan Serui Papua. Berbeda dengan Eucheuma cotonii yang sudah dibudidayakan secara luas di Indonesia Porphyra sp. merupakan jenis rumput laut merah yang sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal sebagai bahan pangan alternatif lokal dengan kandungan nutrisi yang tinggi baik protein vitamin maupun yodium. Padahal secara ekonomis jenis rumput laut ini memiliki prospek industri kelautan dengan nilai yang cukup besar. Hal ini disebabkan karena beberapa hambatan teknis terkait dengan budi daya jenis rumput laut ini. Prospek pengembangan sumberdaya laut ini dalam konteks perkembangan teknologi budidaya dan produksi pada tataran global dengan teknologi terkini akan disajikan secara ringkas dalam poster ini. Di samping itu hasil awal kajian yang sudah dilakukan terhadap Porphyra sp. yang ditemukan di Provinsi Maluku baik secara lokal maupun secara nasional akan dikemukakan untuk memberikan gambaran kemajuan penelitian mengenai Porphyra sp. Konferensi Kebudayan Maluku I tahun 2014Earth and Environmental Sciences
Keanekaragaman Genetik Beberapa Spesies Ikan Pelangi Irian Melalui Mitokondria DNA (Mt-DNA) dengan Teknik PCRhttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/H0J1FMSaid Djamhuriyah S. Carman Odang Tanjung Livia R.Artikel Jurnal Dataverse2018-04-04T14:40:22ZdigitalIkan pelangi Irian atau kelompok Rainbowfishes tersebar di Papua dan Australia tergolong kedalam famili Melanotaeniidae yang memiliki enam genus dan terbagi dalam 53 spesies. Beberapa spesies hidup secara endemik di perairan danau atau sungai-sungai. Ikan pelangi memiliki keindahan bentuk dan warna sehingga memiliki nilai ekonomis sebagai ikan hias. Informasi genetis (gen/DNA) ikan- ikan tersebut masih jarang dilaporkan.. Penelitian genetis melalui mitokondria DNA (mt-DNA) dari lima jenis ikan pelangi Irian yaitu Glossolepis incisus Melanotaenia boesemani M. lacustris M. maccullochi dan M. praecox telah dilakukan pada bulan Februari—Maret 1999 di Laboratorium Genetik dan Reproduksi Ikan Fak Perikanan IPB. Kajian awal ini lebih ditekankan pada kesesuaian primer yang digunakan untuk mengamplifikasi sekuens mt-DNA ikan pelangi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan dua jenis primer yaitu F & R Primer [Takara] dan Universal Primer [Gibco] dan I jenis enzim restriksi Mbo I. Amplifikasi mt-DNA menggunakan Teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). Primer F&R [Takara] memiliki sekuens yang sesuai dengan mtDNA (D-loop) tiga spesies ikan pelangi yaitu G. incisus M. lacustris dan M. praecox. Enzim restriksi Mbo I mempunyai masing-masing satu situs pemotongan pada mtDNA ketiga spesies tersebut. Limnotek Vol. XII No. 2. Hal. 75-82Earth and Environmental Sciences
Peluang dan Tantangan Proses HPAL/PAL (High Pressure Acid Leaching) untuk Mengolah Bijih Nikel Laterit Kadar Rendah Sangaji Halmaherahttps://hdl.handle.net/20.500.12690/RIN/02WXMIPrasetyo PuguhProsiding Dataverse2018-08-20T21:13:50ZdigitalIndonesia berlimpah dengan SDA (sumber daya alam) bijih nikel oksida yang lazim disebut laterit. Laterit tersebut berada di Kawasan Timur Indonesia terutama di Sulawesi Tenggara pulau Halmahera Maluku Utara dan pulau Gag Papua. Laterit kadar tinggi jenis saprolit dengan kandungan Ni ≥ 1 8 % sudah diolah di Sulawesi Tenggara dengan jalur proses pirometalurgi. Proses pirometalurgi digunakan untuk memproduksi FeNi (ferronikel) seperti yang dilakukan oleh BUMN PT Aneka Tambang (AnTam) di Pomalaa. Atau untuk memproduksi Ni matte seperti yang dilakukan oleh PT Vale Indonesia (sebelumnya PT INCO Canada sampai 2011) di Sorowako. Sedangkan laterit kadar rendah yang terdiri dari limonit dan saprolit dengan kandungan Ni < 1 8 % belum diolah di tanah air. Untuk mengolah laterit kadar rendah digunakan jalur proses hidrometalurgi yaitu proses Caron (ammonia leaching) untuk memproduksi NiO dari serpentin dan proses HPAL/PAL (high pressure acid leaching) untuk memproduksi NiS dari limonit. Sehubungan dengan UU Minerba No 4 tahun 2009 yang melarang ekspor bahan baku mineral dan diwajibkan untuk mengolah bahan baku di dalam negeri. Dalam tulisan ini akan dikaji bagimana prospeknya apabila proses HPAL/PAL akan digunakan untuk mengolah laterit kadar rendah di Indonesia khususnya untuk limonit dari Sangaji blok C Halmahera. Prosiding SMM 2012. Hal. 87-96Chemistry