Resignification: Wacana Balik Orang Papua dalam Menanggapi Rasisme

Ubaidillah Ubaidillah

ABSTRACT

Terjadi pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya oleh berbagai pihak, mulai dari tentara, satuan pamong praja, kepolisian, sampai organisasi masyarakat pada 16-17 Agustus 2019. Massa pengepung meneriaki mahasiswa Papua dengan kata monyet. Artikel ini menggunakan teori resignifation Judith Butler (1997) untuk melihat bagaimana orang-orang Papua sebagai korban ujaran rasial mampu berbicara balik kepada pelaku setelah mengemansipasi dirinya sendiri dari jejaring konteks sosial yang diskriminatif. Keutamaan resignification yang diusulkan Butler sebagai cara menanggapi ujaran kebencian adalah pemanfaatan logika internal ujaran yang disusun oleh pelaku sebagai sumber daya untuk menyusun wacana balik. Pola resignification yang dilakukan orang Papua adalah meliyankan diri sendiri dengan menggunakan frasa ‘monyet Papua’ dalam wacana baliknya. Frasa ‘monyet Papua’ ini merupakan bentuk reartikulasi pembedaan diri yang dilakukan dalam ujaran rasis ‘monyet’. Cara ini digunakan untuk melucuti otoritas pelaku ujaran, mempersatukan orang-orang Papua, dan mampu menjustifikasi tuntutan untuk merdeka dari kolonialisasi Indonesia. Peralihan fokus diskursus wacana balik orang Papua dari melawan rasisme menjadi tuntutan kemerdekaan Papua dapat pula dibaca sebagai upaya taktis untuk melakukan afirmasi kesetaraan status antara manusia Indonesia dan manusia Papua. Cara pandang bahwa perlakuan rasisme adalah bagian dari tindakan kolonialisasi Indonesia terhadap Papua melandasai pola interpretasi ujaran rasis Surabaya sehingga menghasilkan pola wacana balik yang demikian.

Sumber: Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya https://jmb.lipi.go.id/jmb/article/view/876