Muslim Papua Membangun Harmoni Berdasar sejarah Agama di Bumi Cendrawasih

Penulis : Dhurorudin Mashad

Jumlah Halaman : 444 hlm

Tahun : 2020

ISBN : 978-979-592-881-2

Penerbit : Pustaka Al-Kautsar

Abstrak :

Aktivitas dakwah Islam di bumi “mutiara hitam” hakekatnya merupakan bagian dari rangkaian syiar Islam di Nusantara yang cukup panjang. Konon syiar Islam diawali dari wilayah Sulawesi, mulai dari Mandar (Sulawesi Barat) sampai Manado (Sulawesi Utara) pada pertengahan abad 15 M yang kala itu menjadi bawahan Kesultanan Ternate (Maluku Utara). Atas dakwah Sultan Ternate, Raja Bolaang Mongondow akhirnya memeluk Islam. Penyebaran Islam terus ke wilayah timur Kepu¬lauan Maluku lainnya di awal abad 16. Selain kesultanan Ternate, ada pula kesultanan Bacan, dimana para mubalignya juga giat menyebarkan Islam ke kawasan tetangga hingga Papua. Namun, terutama melalui jalur perdagangan Islam akhirnya makin dikenal masyarakat Papua, meskipun kala itu penyebarannya masih terbatas di kota-¬kota pelabuhan. Para pedagang dan ulama menjadi guru-guru berpengaruh di tempat¬-tempat baru ini. Berbagai sumber mencatat bahwa di awal abad 15 M sejumlah daerah di Papua bagian barat, yakni wilayah Waigeo, Missool, Waigama dan Salawati tunduk pada kekuasaan Sultan Bacan – Maluku. Realitas sejarah ini telah membuka tabir tentang arti penting era kedatangan Islam di bumi Papua, dan oleh karena itu sebagaimana wilayah-wilayah lain di Nusantara, Islam dan Muslim akhirnya menjadi bagian integral dengan tanah Papua. Apa, siapa, dan bagaimana kaum muslim Papua? Apakah muslim Papua merasa memiliki identitas yang khas yang membedakan dengan warga Kristen Papua sekaligus membedakan dengan kaum muslim di luar Papua? Sebagai muslim yang hidup di tanah Papua, harapan apa yang paling utama ingin dapat diwujudkan ? serta apa saja kendala dan atau problema (keagamaan, kultural, dan politik) yang dihadapi mereka termasuk dalam isu Papua merdeka ? Serangkaian pertanyaan tersebut tentu menarik untuk ditelusuri jawabnya yang secara relatif diupayakan untuk dihadirkan dalam buku ini. Buku ini diberi judul Muslim Papua. Kenapa bukan Muslim di Papua? Sebab, Muslim Papua memiliki makna bahwa mereka secara historis kultural menjadi bagian integral dari tanah Papua. Sementara, istilah muslim di Papua umumnya salah kaprah diidentikan dengan pendatang. Padahal, Papua memiliki penduduk Muslim asli, komunitas yang eksistensinya bersifat kelampauan, baik yang asli etnis Papua ataupun komunitas pendatang era kelampauan, sehingga keberadaannya telah berpilin dengan darah lokal akibat kawin mawin dengan etnis lokal (baca: Papua peranakan). Naskah ini sengaja hadir untuk merangkai kembali serakan puzzle masa lampau tanah Papua yang bagian-bagiannya telah hilang, terlupakan, atau bahkan sengaja disembunyikan.

Sumber: http://lipi.go.id/publikasi/muslim-papua–membangun-harmoni-berdasar-sejarah-agama-di-bumi-cendrawasih/34871