Kebun Biologi Wamena

Tanggal 12 Juni 1995 merupakan tonggak bersejarah bagi kegiatan konservasi ex-situ di kawasan Pegunungan Papua Tengah yaitu lahirnya Kebun Biologi Wamena – LIPI. Tanggal ini sengaja dikenang karena pada saat itu tim peneliti LIPI yang dipimpin oleh Bapak Ir. Henny Latupapua dan bersama dengan para kepala suku dari Distrik Hubikosi melakukan pengolahan tanah dengan menggunakan sekop dan sege (alat balik tanah suku Dani, Baliem) di lokasi Gunung Susu (Anonim, 2005).


Untuk mencapai titik bersejarah ini, yaitu berdirinya Kebun Biologi Wamena tersebut sudah banyak pengorbanan yang diberikan LIPI dan Pemda setempat yang dimotori oleh Bapak Bupati Jayawijaya J.B. Wenas. Pergumulan yang terberat adalah bagaimana memotivasi para Kepala Suku dan tua-tua adat untuk memahami pentingnya Kebun Biologi Wamena sebagai tapak konservasi ex-situ di masa mendatang. Oleh karena itu beberapa pertemuan telah dilaksanakan baik DI SPAT (Stasiun Penelitian Alih Teknologi) -LIPI, Wamena dan juga di kantor DPRD kabupaten Jayawijaya (Anonim, 2005). Para peneliti LIPI yang telah berkiprah dalam membangun Kebun Biologi Wamena berasal dari 4 Puslit yaitu Puslit Biologi, UPT-TTG Subang, PKT Kebun Raya Bogor dan IPSK. Kehadiran para peneliti untuk kegiatan pembangunan Kebun Biologi Wamena melalui permintaan resmi Puslitbang Biologi yang pada waktu itu Tolok Ukurnya dipimpin oleh Bapak Ir. Henny Latupapua kecuali peneliti dari UPT –TTG yang pada saat itu telah lebih dahalu berada di Wamena. Tentunya Puslit Biologi merupakan garda depan untuk pencapaian pembentukan Kebun Biologi Wamena.


Keempat Puslit ini dapat merealisasi kegiatannya di Wamena karena didukung oleh pembiayaan yang disediakan oleh BAPPENAS melalui sebuah Biro yang membidangi IPTEK, Kebudayaan dan Penerangan. Selain itu ada dukungan yang sangat besar dari Pimbagpro Pengembangan Masyarakat Pedesaan Wamena (PMPW) yaitu Bapak Ir. Arie Sudaryanto dan Bapak Ir. Akmadi Abbas.
Waktu yang telah dicurahkan untuk mencapai tahun 1995 diawali melalui penandatanganan MOU antara Pemda Jayawijaya dengan LIPI (dalam hal ini Kapuslit Fisika Terapan,LIPI ) pada tanggal 3 November 1988 di Jakarta. Penandatanganan MOU ini sebagai dampak dari penunjukkan LIPI oleh Dirjen Bangda (Departemen Dalam Negri) pada 22 Oktober 1988 sebagai pelaksana proyek Pengembangan Masyarakat Pedesaan Wamena (PMPW). Selanjutnya pada tanggal 11 Desember 1988 dilakukan penandatangan nota kesepakatan (MOU) antara Ketua LIPI dan Gubernur Irian Jaya yang dilaksanakan di Jayapura. Melalui kedua nota kesepakatan ini maka terjalinlah secara resmi kerjasama antara LIPI dan Pemda Jayawijaya yang kegiatannya terpusat di Wamena. Pertama kali yang melakukan kegiatan PMPW adalah para peneliti Puslit Fisika Terapan yang dalam kegiatan lapangan diwakili oleh UPT – TTG (Unit Pelaksanaan Teknis – Teknologi Tepat Guna). Dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan PMPW selama beberapa tahun pertama, para peneliti dari Puslitbang Biologi, LIPI juga dilibatkan untuk pengembangan sumber daya hayati yang ada di Wamena. Untuk mengkoordinasi dan memudahkan kegiatan lapangan, maka pada 21 Januari 1993 berdirilah Stasiun permanen yang bernama Stasiun Penelitian Alih Teknologi (SPAT), LIPI yang berlokasi di Jln Thamrin, No. 1 Wamena.Kegiatan yang dilakukan oleh SPAT – LIPI adalah Pengembangan Masyarakat Pedesaan Wamena (PMPW) yang berakhir hingga tahun 1995 / 1996. Beberapa lokasi yang dijadikan lokasi kegiatan PMPW yaitu kecamatan Wamena, Kurulu, Asologaima dan Kurima. Keempat tempat ini dipilih karena kemudahan prasarana transportasi sehingga dapat terjalin komunikasi yang intens antara masyarakat dan LIPI (Abbas, dkk, 2005)


Pada tahun 1991 / 1992 mulai dirintis berdirinya Kebun Biologi Wamena, yang diawali dengan berdirinya Pembibitan di Hone Lama. Pada waktu itu para peneliti Puslitbang Biologi menginap di rumah kosong milik Kantor Bersama Pemda Jayawijaya, Jln Yos Sudarso, Wamena. Periode waktu antara tahun 1992 – 1997 adalah masa-masa sulit karena terjadi berbagai perundingan antara LIPI dengan para Kepala Suku untuk mendapatkan lahan Gunung Susu. Berbagai Suku yang terlibat dalam perundingan ini adalah Elopere, Hubi, Kosay, Meage dan Kalolik. Perundingan sangat alot dan tempat perundingan pun sering berganti seperti yang telah disampaikan di atas. sehingga membutuhkan fasilitator baik yang berasal dari Pemda Jayawijaya maupun pihak Gereja. Pada tanggal 29 Agustus 1997, kerja keras para peneliti LIPI dan Pemda Jayawijaya membuahkan hasil, yaitu para kepala Suku secara sadar menyetujui untuk Pelepasan Hak Ulayat lokasi Gunung Susu kepada Pemda Jayawijaya yang diperuntukan bagi lokasi Kebun Biologi Wamena. Lokasi ini telah dibayar lunas oleh Pemda Jayawijaya pada tanggal 13 Juli 2010.


Pada tahun 1995, LIPI memiliki kebijakan untuk menghentikan Program PMPW dengan pertimbangan masyarakat telah mampu secara mandiri melakukan kegiatannya tanpa bimbingan dari LIPI (Abbas, dkk, 2005). Dengan berakhirnya kegiatan Proyek PMPW maka Puslit Biologi mendapat limpahan tanggungjawab untuk mengelola asset yang ada di SPAT, LIPI dan meneruskan kegiatan Pembangunan Kebun Biologi Wamena (Anonim, 2005). Cerita ini sengaja diangkat kepermukaan supaya semua orang dapat memahami bahwa Kehadiran Kebun Biologi Wamena tidak dapat dipisahkan dengan SPAT – LIPI. Pada saat ini, Kompleks SPAT – LIPI Wamena masih berfungsi sebagai kantor dan asrama bagi para peneliti LIPI yang melakukan aktivitas di Wamena terutama para peneliti dari Puslit Biologi